GreenPeace: Global Warming Tidak Bisa Dihentikan

“Apa yang kami pandang merusak bumi, justru dianggap sebagai sesuatu yang lumrah”

Di majalah Gloob! edisi ke-5, kami berkesempatan ngobrol bareng kepala GreenPeace indonesia, Leonard Simanjuntak. Banyak hal yang dibahas, mulai dari mengenal GreenPeace lebih dalam, ragam program, hingga tentunya mengetahui kondisi alam sekarang ini. Sedikit demi sedikit, banyak fakta yang terungkap lewat obrolan tersebut, dan tak jarang membuat tim terkejut.

GreenPeace adalah …

Organisasi lingkungan global. Kami ada di 41 negara. GreenPeace Indonesia adalah bagian dari GreenPeace Asia Tenggara. Non-violence direct action dan creative confrontation merupakan prinsip GreenPeace. Bentuknya bisa blokade, pemanjatan, banner, penyampaian petisi dan aksi jalanan.

Apa yang sedang menjadi fokus dari GreenPeace International?
Sebagai organisasi global tentu punya mandat global. Kami bekerjasama dengan publik supaya bumi ini pemanasannya tidak lebih dari 1.5 derajat. Kalau sudah lewat, secara scientific evidence dan prediction, akan ada dampak perubahan iklim yang tidak bisa balik lagi, es-nya akan terus mencair. Campaign terbesar skalanya, yakni anti-deforestasi dan menurunkan penggunaan batu bara dalam pembangkitan listrik.

Campaign dari GreenPeace Indonesia di tahun 2017?

Campaign tentang persoalan lingkungan di masyarakat urban, akan start di Jakarta dan Bandung pada pertengahan tahun ini. GreenPeace ingin campaign ini menjadi lebih open atau kolaboratif dengan komunitas, seperti komunitas bikers, bike to work, yoga, organic food, carpooling, hingga musisi. Artinya, persoalan lingkungan di urban cukup kompleks. Isu besar pertama, Mobility, yakni moda bergerak yang nyaman dan ramah lingkungan. Public transportation atau bersepeda harus menjadi pilihan utama dibanding kendaraan pribadi. Kedua, polusi udara. Kami sedang dalam proses kerjasama melalui 50 alat pemantau reguler polusi udara. Kita ingin launch mobile apps-nya. Angle-nya PM 2.5, kami dan Harvard sudah mengamini bahwa ini yang paling berbahaya, karena dia kecil, tidak terlihat, tidak berbau dan tidak berwarna. Informasi ini tidak ada di ruang publik dan ini coba kita introduce. Orang merasa kita punya polusi tapi tidak tahu seperti apa bahayanya. Ketiga, plastik. Indonesia adalah penghasil sampah plastik terbesar ke-2 di dunia setelah Tiongkok. Kami mengupayakan untuk penggunaan tas belanja yang multipakai. Plastik menjadi perhatian lebih serius dibandingkan kertas karena punya kemampuan tidak bisa diurai sampai ratusan tahun.

Apakah GreenPeace pernah mengalami pihak yang meng-counter kepada pihak, baik secara personal atau organisasi, karena campaign-nya?
Pernah, dalam berbagai bentuk. Kami punya mekanisme direct action, terutama disitulah kami akan berhadapan. Riset, statement, publikasi kami juga sangat kritis yang dalam banyak hal kemungkinan mengganggu kepentingan baik industri maupun pemerintah. Apa yang kami pandang merusak bumi, justru dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. GreenPeace selalu bertanggungjawab atas aksi protes di lapangan.

Global Warming, menjadi isu tahunan. Sebenarnya ini bisa dihentikan atau hanya diperlambat?
Saya harus berbicara jujur, yang bisa kita lakukan sekarang adalah mengontrolnya di level yang dampaknya masih bisa dikelola, tidak fatal atau irreversible. Artinya, kalaupun terjadi pencarian es, akan tetap pada level yang bisa ditoleransi. Jadi, dihentikan? Tidak bisa kita hentikan lagi.

Menurut GreenPeace, bagaimana kondisi lingkungan terkini di Indonesia?
Indonesia penting sekali sebagai negara dalam konteks global warming. Indonesia negara kepulauan terbesar di dunia dan sebagai populasi terbesar ke-4 di dunia dengan ekonomi yang terus bertumbuh. Ekonomi bertumbuh itu seperti pisau bermata dua, kalau kita tidak kontrol bagaimana dia bertumbuh, bisa berpotensi penghasil emisi CO2 yang besar sekali buat dunia. Kondisi itu terjadi karena kita membiarkan praktik-praktik korporasi yang merusak gambut seperti di Sumatera dan Kalimantan. Kegemaran perusahaan-perusahaan adalah membangun kanal-kanal untuk mengeringkan gambut. Pada saat gambut dikeringkan, terjadi pelepasan karbon ke atmosfer. Tahun lalu, praktik pembakaran hutan makin jauh berkurang, bertolakbelakang pada tahun 2015. Secara natural terjadi penurunan signifikan titik api. Tahun 2017 berpotensi punya persoalan kebakaran hutan lagi, karena kondisi alam yang kering.

Simak obrolan lengkapnya dalam majalah Gloob! edisi ke-5 melalui link di bawah:

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *