Depok, 2 Agustus 2017

Pagi itu, pagi yang ngantuk nauzubilah itu, Harry mengetuk jendela kamar saya tanpa ampun. Saya bangun dan membukakan pintu. Entah itu karena niat berangkat atau memang terpaksa.

“Yuk, gas! Keburu bubur jadi beras lagi nih.” sapa Harry berbalut candaan masa kolonial. Saya Cuma mengangguk, tanpa sepatah kata, sambil berusaha membenahi otak saya yang belum terkoneksi dengan saraf-sarafnya.

Segeranya saya kembali ke dalam. Mandi. Biar tubuh sedikit lebih bugar sekaligus menghapus jejak-jejak mimpi nakal tadi malam.

Akhir pekan kali ini saya akan mengunjungi suatu tempat yang mengasyikan. Suatu tempat yang pasti saya suka. Suatu tempat yang dapat mengubah akhir pekan yang biasa-biasa saja ini, menjadi lebih luar biasa.

Saya mengajak Harry, teman seperjuangan, yang tengah dimabuk asmara dengan wanita negara tetangga. Oh, tentu Ia mau. Kami sependapat tentang tempat ini: destinasi ideal.

Setelah mandi dan merasa cukup ganteng untuk nge-DM ‘pacaran yuk’ ke Pevita Pearce, saya dan Harry mempersiapkan barang-barang yang perlu kami bawa. Kaos, uang, dan kamera dimasukkan ke dalam satu tas yang saya kenakan. Puncak, Bogor, Jawa Barat.

Kala itu masih jam 9 pagi. Gosip antar-geng dan kopi pahit tentu menjadi ritual sakral saya dan Harry sebelum memulai perjalanan.

Satu gelas kopi dan segelintir gemplong begitu cepat kami babat. Motor Supra berbody berisik milik Harry pun mulai dipanaskan. Dengan semangat yang agak labil, gas motor ditancap melewati pagi Depok yang kaya akan polusi.

Tentu Harry adalah pengemudinya. Ia penakut, tak mengizinkan saya membawa motor yang seharusnya sudah dimuseumkan itu. Padahal, kalau dilihat dari cara mengemudi, saya pastilah lebih mahir. Bagaimana tidak, tiap pagi dan sore di hari senin sampai jumat, saya lihai melewati makhluk-makhluk tak kenal sabar di jalanan Jakarta yang tersohor kejam itu.

Biarlah. Lagipula, kali ini Harry terlihat bersemangat. Supra legendaris itu dilajunya sangat cepat. Saya seperti diboncengi The Doctor yang tengah mengejar kepopularitasannya yang mulai memudar.

Dua jam berlika-liku dari Depok ke Puncak hingga bentuk bokong terasa tak lagi normal ternyata belum cukup untuk menyentuh Desa Cibulao. Masih ada jalan setapak, tidak jauh sebelum Puncak Pas. Sebenarnya muat untuk mobil, tapi terasa tidak pas karena jalurnya yang terbuat dari bebatuan besar akan menyulitkan saat mengemudi.

Perjalanan di jalur bebatuan itu ternyata asik. Siksaan yang muncul karena jungkat-jungkit di motor dapat tertutupi oleh pemandangan kebun teh yang teramat luas.

kebun kopi, Cibulao, Puncak, Bogor, jawa Barat

Tidak pernah terlintas dipikiran saya kalau Puncak punya sisi lain yang se-Madonna ini. Mmm… Entah kenapa saya menyebut Madona. Mungkin, saya hanya ingin menggambarkan Puncak yang kala itu saya lihat, sungguh seksi bak Madona yang tengah meliak-liuk di video klip Hung Up-nya.

Hanya butuh sekitar 20 menit menelusuri jalan bebatuan itu sampai akhirnya saya bisa mendarat di Desa Cibulao. Betapa perjuangan yang hebat, pikir saya, terutama Harry yang sedari awal mengendarai motor. Sedikit banyak saya mendengar keluhan Harry tentang tangannya yang mati rasa saat di perjalanan barusan.

Desa Cibulao hanya seperti gang buntu sepanjang 100 meter dengan lebar jalan sekitar 2 meter.  Tentunya, kiri kanan jalanan Desa Cibulao ini diisi rumah-rumah sederhana yang dihimpit perkebunan teh.  Saya dan Harry berhenti tepat di jalur awal masuk desa.

kebun kopi, Cibulao, Puncak, Bogor, jawa Barat

“eh, terus gimana, wa?” tanya Harry agak bingung.

Saya dan Harry memang kurang informasi, tak tahu harus tanya ke siapa atau harus bagaimana supaya bisa ke kebun kopi yang kami berdua cari.

Tidak jauh dari tempat saya berhenti, ada rumah warga yang sekaligus menjelma jadi warung. Rumah itu berwarna biru, beberapa bagiannya terbuat dari kayu. Saya menghampiri rumah tersebut untuk bertanya.

“Punten, Ibu.” sapa saya sok paham bahasa Sunda sambil mengambil satu botol Aqua. “Ini berapa?”

“Patribu,” jawab si ibu singkat dan pelan.

Saya memberikan uang 20rb rupiah. Di sela-sela kesibukkan si ibu yang tengah mencari uang kembalian, saya bertanya tentang keberadaan kebun kopi yang sedang saya cari-cari.

“Itu, yang paling ujung, A.” si ibu menjelaskan sambil menunjuk-nunjuk ke arah belakang rumahnya, ke arah ujung jalanan Desa Cibulao. “Bilang aja cari Kang Yono, mau ke kebun kopi.”

Selepas mengambil uang kembalian, saya menghampiri Harry, menjelaskan apa yang ibu itu jelaskan. Tanpa pikir panjang, motor kembali dinyalakan. Kami meluncur dengan gesit ke ujung jalanan desa Cibulao.

Sesampainya di ujung desa, saya melihat seorang ibu berumur 50-an tengah menyirami tanaman tak jelas di depan rumahnya, rumah terakhir yang ada di jalanan Desa Cibulao ini.

“Punten, ibu. Rumahnya Kang Yono yang mana, ya?” tanya saya sembari turun dari motor.

“kenapa memang?” jawab si ibu itu singkat dengan nada curiga.

“saya mau ke kebun kopi, ibu. Saya mau lihat-lihat. Ya kalo jadi mau ngadain wisata edukasi gitu.”

Soal wisata edukasi itu saya tidak yakin kebenarannya. Saya cuma bingung harus memberikan alasan apa yang dapat mengisyaratkan bahwa kedatangan saya memiliki tujuan penting.

“Yonoo…Yono,” teriak si ibu mengarah ke dalam rumah. Tak lama berselang, pria berumur 30-an dengan tinggi sekitar 170cm dan berkulit sawo matang, keluar dan menanyakan alasan si ibu tadi memanggilnya.

“itu, ada yang mau ke kebun,” jawab si ibu dengan mulutnya yang menunjuk ke arah saya dan Harry.

“ooo, dari mana?” tanya Kang Yono dengan nada Sundanya sembari berjalan ke arah saya dan menyodorkan tangan untuk bersalaman. Saya menjawab lalu menjelaskan tujuan saya datang. Lagi-lagi, saya memberikan alasan semu tentang wisata edukasi tadi.

Sekitar 5 menit waktu yang saya, Harry, dan Kang Yono habiskan untuk mengobrol di depan rumah si ibu yang ternyata orang tua Kang Yono. Saya dan Harry diperbolehkan melihat-lihat kebun. Bahkan, Kang Yono meminta saya dan Harry untuk segera meletakkan barang agar kami bisa langsung ke kebun.

Kami berjalan kaki menelusuri gang kecil yang ada di antara rumah Kang Yono dan rumah warga Desa Cibulao lain. Lepas dari gang itu, saya disambut ribuan pohon teh yang cerah dan menyegarkan. Assalamualaikum, sapa saya ke pohon. Untungnya tidak dijawab. Puncak, Bogor, Jawa Barat.

Saya dan Harry berjalan di belakang Kang Yono, di jalan setapak, di kelilingi hamparan pohon teh. Di sebelah kiri saya terlihat kota Bogor dari kejauhan. Di sebelah kanan saya ada gunung yang entah namanya apa namun terlihat begitu gagah.

kebun kopi, Cibulao, Puncak, Bogor, jawa Barat

Menelusuri kebun teh tak berlangsung lama. Kang Yono berhenti di sebuah area yang digunakan untuk membudidayakan aneka bibit pohon, termasuk pohon kopi. Entah apa sebutan versi anak pertanian untuk area tersebut. Itu urusan mereka.

Saya hanya celingak-celinguk, begitu pun Harry. Kami menunggu Kang Yono selesai. Kami berharap Kang Yono segera mengajak kami berkeliling di kebun kopi yang hanya tinggal beberapa langkah itu.

Di tengah kesibukan saya yang sedang celingak-celinguk tak karuan, saya melihat pohon kopi yang tertanam di sela-sela tebing tanah, tak jauh di sebelah kanan saya. Aneh memang. Bisa-bisanya pohon itu menyendiri tak acuh dengan teman-temanya.

kebun kopi, Cibulao, Puncak, Bogor, jawa Barat

“Itu kopi juga, Kang?” tanya saya sambil menunjuk ke arah pohon kopi aneh tadi.

“Iya. Itu robusta,” jawab Kang Yono yang tengah sibuk mengurusi bibit-bibit pohonnya.

Kang Yono akhirnya selesai. Kami bertiga mulai menapaki jalan setapak yang agak sedikit menanjak, menuju areal utama kebun kopi. Belum jauh melangkah, pohon kopi robusta yang tengah memerah menjulurkan batangnya seakan menyambut kedatangan saya. Lagi-lagi saya sapa pohon itu dengan Assalamualaikum. Kali ini dijawab. Bukan sama pohonnya, tapi sama Harry. Saat itu juga ingin rasanya saya gelar pengajian.

kebun kopi, Cibulao, Puncak, Bogor, jawa Barat

Kami bertiga akhirnya sampai di areal utama kebun kopi. Saya sudah menduga bahwa luas kebun ini tak seberapa. Mungkin tak lebih dari 2 lapangan futsal. Tapi tak masalah, yang penting hasilnya. Lagi pula, ini kali pertama saya, bangga pastilah saya rasa. Terlebih lagi Kang Yono menjelaskan, “Kalian termasuk beruntung. Baru sedikit orang yang pernah ke sini.”

Saya yakin betul Kang Yono jujur atas ucapannya barusan. Terbukti dari penampilan si kebun yang masih apa adanya. Belum terlihat ada upaya-upaya penataan seperti halnya ketika akan dijadikan lokasi wisata.

Saya mengelilingi hampir seluruh sisi kebun kopi itu. Ke kiri, ke kanan, ke depan, ada jurang, balik lagi. Semuanya saya perhatikan. Puncak, Bogor, Jawa Barat.

kebun kopi, Cibulao, Puncak, Bogor, jawa Barat

“Bijinya merah semua, Kang,” tanya saya ke Kang Yono sambil menunjuk biji kopi di sebelah saya. “udah mau panen, ya?”

“Iya, tapi masih harus nunggu beberapa hari lagi kalo ini mah,” jelas Kang Yono. “kalo mau nyobain, di rumah ada,”

Segera saya menghampiri Harry yang sedang memotret untuk berbisik, “kita diajakin nyoba kopinya, gratis!”

“yakin lu?”

Insyallah!”

Saya kembali ke Kang Yono. Kali ini, saya bertanya banyak dan serius. Kang Yono pun menjawab semua pertanyaan saya dengan jelas dan sabar.

Kang Yono menjelaskan bahwa dirinya bukanlah satu-satunya pengelola kebun kopi ini. Beliau juga dibantu oleh Institut Pertanian Bogot dan tentunya warga Cibulao lain, yang kemudian membentuk Kelompok Tani Hutan (KTH). Dari pihak-pihak itulah Kang Yono mendapatkan pemahaman lebih tentang metode penanaman yang baik, mengolahnya, hingga memasarkan biji kopi yang telah dipanen.

Keseriusan Kang Yono dan KTH Cibulao dalam mengelola kebun kopi ini pernah membuahkan hasil. Pada tahun 2016 lalu, kopi Cibulao hasil besutannya menjuarai ajang kopi nasional yang digelar di Aceh. Dari situ pula biji kopi Cibulao mendapat titah sebagai salah satu dari 15 biji kopi premiun Indonesia, setara dengan Gayo atau Sidikalang yang sudah lama terkenal namanya seantero negeri. Bedanya tentu pada popularitas, harga, dan jumlahnya yang belum seberapa.

kebun kopi, Cibulao, Puncak, Bogor, jawa Barat

“tapi, Kang,” selak saya ketika Kang Yono tengah menjelaskan. “panen di sini lancar terus gak sih?”

“Nah itu dia. Nggak selalu. Musim kemaren nggak sesuai target,” pangkas Kang Yono yang agak lesu menjelaskan. “Namanya juga bertani. Kadang bagus, kadang ya gitu, Mas.”

Kang Yono memang sedari awal sudah berkali-kali memberi tahu saya bahwa ia sangat menyukai profesinya ini. Sedikit banyak saya dapat merasakan ketidaknyamanan Kang Yono kala itu, atau bahkan saat ini ketika menceritakannya.

Menghindari suasanya yang sendu, Kang Yono kembali mengajak saya untuk mencicipi kopi yang telah disimpan di rumahnya. Oh, tentu saya mengiyakan tanpa malu apalagi ragu. Saya pun menengok ke Harry yang cukup lama mengintil obrolan saya dengan Kang Yono. Tatapan Harry sumringah, wajahnya seakan berkata, mantul!

Kami kembali melewati jalan setapak yang tadi. Jalan setapak yang dikelilingi rimbunan pohon teh yang sejuk dan hening. Mungkin karena sangat bersemangat, terlebih lagi dijanjikan kopi gratis, kebun teh dilewati dengan begitu cepat.

Sesampainya di depan rumah Kang Yono, saya melihat sebuah karung berwarna putih bersandar di mesin giling manual, tepat di teras rumah Kang Yono. Misterius, tapi saya hiraukan.

Kang Yono mengajak saya masuk ke sebuah pendopo yang terbuat dari bambu, mirip pos satpam, yang menyambung dengan rumahnya. Saya dan Harry menuruti. Angin berhembusan ke leher dan tangan saya. Sejuknya sungguh menenangkan, lagi-lagi membuat saya tak sadar bahwa ini Puncak, daerah wisatanya orang timur sana yang sedang mencari wadah untuk meluapkan emosi.

Sementara itu, Kang Yono masuk ke dalam rumah. Saya yakin Ia akan membawakan saya dan Harry keajaiban kebunnya itu. Betul saja, selang beberapa saat, kang Yono keluar memegang nampan berwarna merah yang di atasnya terdapat 3 gelas bambu, setoples bubuk arabica Cibulao, dan perlengkapan V60.

“Menurut saya, kopi arabica sini paling enak diseduh V60.” Jelas Kang Yono tanpa saya tanya.

V60 adalah metode penyajian kopi di mana bubuk kopi akan diletakan pada sebuah wadah khusus berbentuk corong yang sekaligus berfungsi sebagai penyaring. Saat bubuk kopi telah diletakan pada corong tersebut, air panas akan diguyurkan. Secara perlahan, air yang telah berpadu dengan biji kopi akan masuk ke teko di bawahnya, dan meninggalkan ampas kopi di corong tadi.

kebun kopi, Cibulao, Puncak, Bogor, jawa Barat

Angin dingin terus mendesis di telinga saya hingga akhirnya 3 gelas bambu tadi telah terisi kopi Cibulao. Meski tak setajam kopi dampit asal Malang, aroma kopi cibulao tetap ampuh merangsang. Satu dua seruputan kopi saya tunaikan. Rasa pahit asam yang lembut menampar mulut saya. Di seruputan ketiga, saya merasakan ada citarasa cokelat.

“gimana, Mas?” tanya Kang Yono mengganggu.

“mantap, Kang. Enaknya ke ubun-ubun!” balas saya sambil menyeruput kopi entah untuk keberapa kalinya.

Saat saya akan menyalakan satu batang rokok, saya teringat karung putih yang terletak di depan rumah Kang Yono tadi. Dengan sigap, saya menghampiri untuk mencari tahu isi karung tersebut.

“ini biji kopi, Kang?” tanya saya yang tengah melihat isi karung tersebut.

“Oh itu. Iya. Kopi luwak”

“wadaw,”

kebun kopi, Cibulao, Puncak, Bogor, jawa Barat

Saya kembali duduk di pendopo tadi, bersampingan dengan Harry yang sedang cengar-cengir kegirangan. Kang Yono kembali menuangkan kopi arabica Cubulao yang masih panas ke gelas bambu saya dan Harry yang hampir kosong. Harry makin kegirangan. Saya pun demikian.

Kopi kedua itu mengantarkan obrolan yang panjang antara saya, Harry, dan Kang yono. Di satu cerita, Kang Yono menjelaskan rencananya untuk menjadikan desa Cibulao sebagai agrowisata. Rencana itu bahkan sudah berjalan sebagian. Sudah ada beberapa tempat untuk dijadikan penginapan. Susunan acara jika ada rombongan yang berkunjung pun sudah dibuat.

“tapi masih nanti, Mas. Banyak yang harus dibenahi. Ya mudah-mudahan tahun depan (2019) udah bisa jalan. Doain aja.” Ucap kang Yono penuh harap. Puncak, Bogor, Jawa Barat.

“Jangan lama-lama, Kang. Yang kayak gini mah banyak yang nyari,” tandas Harry penuh semangat.

Saya sepemikiran dengan Harry. Banyak kerabat di megapolitan sana yang mengeluh tentang liburan yang gitu-gitu aja. Mereka, termasuk saya, ingin mendapatkan pengalaman baru untuk melepas penat. Melepas kecewa atas bayaran tak seberapa dari kerja mati-matian yang tiap hari dilakukan.

Kopi kedua mulai tiris, tak sadar matahari pun mulai istirahat. Waktu menunjukan jam 4 sore. Udara dingin semakin membelenggu.

Saya dan Harry berinisiatif kembali ke Depok, ke kota yang telah 3 kali dijajah rezim yang sama tapi tak terlihat kemajuannya. Sebelum beranjak pulang, saya membeli kopi yang disimpan Kang Yono tadi. Ia hanya membandrol 60 ribu untuk satu bungkus kopi arabica Cibulao berukuran 250gr. Sangat terjangkau. Terlebih, saya dan Harry mendapatkan pengalaman yang mungkin tidak semua orang dapat rasakan. Sekali pun bisa nantinya, pasti tak akan sama seperti yang saya rasakan ini: lepas dan apa adanya.

Doa saya untuk Kang Yono dan segenap petani KTH Cibulao adalah, semoga panen yang diharap selalu tercapai, semoga kesehatan selalu menyertai, dan semoga banyak yang tahu juga cinta akan keajaiban kopi yang dihasilkan desa Cibulao ini. Kang Yono, saranghaeyo!

kebun kopi, Cibulao, Puncak, Bogor, jawa Baratkebun kopi, Cibulao, Puncak, Bogor, jawa Barat

Lokasi Kebun Kopi Cibulao: Kebun Kopi Cibulao terletak di Desa Cibulao, Puncak Bogor. Jika ingin ke sini, dianjurkan untuk menggunakan motor karena kontur jalannya bebatuan. (Titik koordinat)

Cara dan Biaya ke Kebun Kopi Cibulao: Belum ada harga yang ditetapkan untuk berkunjung ke Desa Cibulao. Kalian bisa langsung bertanya ke Kang Yono di akun Facebook-nya: Link 

Teks & Foto: Dewa Aji Panggalih

2 comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *