Depok sebenernya punya segambreng kedai kopi yang berjejer rapih di jalur yang paling diagung-agungkan pemkotnya: Margonda. Masalahnya, penawaran harga selangit aneka tempat ngopi di jalur Margonda ternyata nggak melulu jalan berdampingan sama kualitasnya. Apalagi menu tambahannya, kayak ada regulasi yang mengharuskan roti bakar, pisang bakar, dan mie instan masuk di daftar menu.

Di beberapa tempat, sebutan ‘kedai kopi’ kayak sekedar kedok. Rasa kopinya ya’aduh banget. Padahal, dari segi kenyamanan, baik itu karena interior atau pun luasnya, beberapa kedai kopi tersebut udah menang banyak. Terbaik lah!

Tapi sayangnya, mereka kayak terbuai sama banyaknya pelanggan yang mudah terpancing sehingga kualitas sajian yang sesuai dengan tajuk tempat itu sendiri agak terlupakan. Bahkan, ada satu tempat yang 2 kali saya datangi, dan menyajikan kopi yang warnanya hampir mirip sama teh.

Akibatnya, saya kurang percaya diri untuk ngopi di kedai kopi yang terlihat wah, meski pengunjung memadati berbagai sisi ruangannya. Tentu nggak semua, tapi cukup banyak kalo di Depok.

Kedai kopi di Depok terenak

Berawal dari situ saya dan teman saya gelut mencari kedai kopi yang klop dengan kami. Butuh waktu dan pastinya uang-uang-uang yang banyak dalam prosesnya.

Nah, di artikel ini saya akan mengumbar dua kedai kopi yang sering saya datangi. Selain unggul dirasa sajiannya, kedua kedai kopi ini juga cingcay soal harga. 50 ribu sudah cukup untuk memesan 1 gelas kopi dan 2 jenis cemilan.

1. Sendja Utama Kopi

Umur tempat ngopi yang terletak di Jl. Kemakmuran Raya, Depok 2 ini masih tergolong belia. Baru rilis di bulan Oktober 2019 kemarin. Tapi, karena baristanya ternyata melakukan riset yang cukup lama sebelum membuka kedai kopinya, maka tempat ini patut diperhitungkan.

Mari bahas dari kekurangannya dulu.

Kekurangan yang cukup ngeganggu walau nggak signifikan adalah cemilan. Sendja Utama Kopi belum menjaja cemilan pendamping kopi. Ada, tapi cuma satu, yakni donut. Untungnya, sebelah persis tempat ngopi ini ada warung kelontongan dan ayam penyet. Ketolong banget.

Kekurangan kedua ada pada jumlah bangku. Sebenernya ini agak bimbang antara kekurangan atau keuntungan. Jumlah bangku+meja di kedai kopi di Depok yang satu ini nggak begitu banyak, hanya sekitar 4 paket. Jadi kalo lagi ramai, agak berebut. Tapi karena itu juga, tempat ini nggak terlalu riuh. Suasana pas kita ngopi di sana jadi enak. Tenang, bisa lebih fokus ngobrol, dan nggak banyak denger gosipan orang lain.

Oke, sekarang kita geser ke kelebihannya.

Kelebihan Sendja Utama Kopi tentu ada pada kopinya. Menurut saya, kopi susu kedai kopi ini adalah yang terbaik pernah saya coba di Depok. Takaran susunya nggak berlebihan, rasa kopinya masih kuat.

Terlebih mereka juga menggunakan gula aren sebagai pemanis. Citarasanya secara keseluruhan jadi lebih beda. Bahkan, beberapa teman saya yang kurang begitu suka kopi pun menyukai kopi susu racikan Sendja Utama Kopi.

Kopi-kopi hitam yang ditawarkan nggak kalah nikmat. Bijinya rata-rata berasal dari merek kopi yang terpercaya kualitasnya, seperti Society Coffee. Pengolahannya selalu dilakukan dengan presisi oleh sang barista, Daulay.

Untuk segelas kopi susu, Sendja Utama Kopi hanya membandrolnya dengan harga Rp. 15.000. Sedangkan untuk kopi hitam, harganya berbeda-beda, tergantung metode penyajiannya. Tapi tenang, semua masih di bawah Rp. 20.000 kok.

Terakhir saya ke tempat ini, mereka belum memasang papan nama. Jadi, kalo kamu mau ke sana, lebih teliti ya di jalan.

2. Main Kopi

Tags: Kedai Kopi di Depok, Coffee Shop Jakarta
Foto: Vajar Sur

Main Kopi sebenernya nggak di Depok. Tapi karena jaraknya cuma 5 menit dari perbatasan Depok, jadi ya dimasukin aja. Hehehe.

Main Kopi berlokasi di Jl. Jeruk Raya, Jagakarsa, berhadapan persis dengan Rumah Sakit Umum Aulia (titik koordinat). Kalo dari Universitas Pancasila, sekali kedip langsung nyampe.

Dilihat dari penampilannya, Main Kopi lebih mirip warkop biasa. Jelas kalah sama kedai kopi modern kebanyakan.

Tempatnya hanya diisi 4  meja kecil (3-4 orang/meja) dan 2 meja panjang (6 orang/meja). Jika ditambah dengan meja perintilan yang ada di deket bar dan jendela, Main Kopi secara keseluruhan dapat menampung sekitar 30 pengunjung.

Menurut saya, perihal kapasitas itu adalah kekurangan. Mereka harusnya menambah ruang dan bangku, karena di tiap malam libur pengunjungnya bener-bener overload.

Tapi kalo soal rasa, harus diakui, Main Kopi terbaik untuk kategori manual brew. Hampir semua kopi single origin yang pernah saya coba di situ memuaskan. Wajar sih, baristanya punya pengalaman segunung. Kerap jadi pengajar pula. Terlihat dari setifikat-sertifikat yang terpajang dan beberapa cerita yang ia bagi ke saya.

Kerennya lagi, Main Kopi juga menjual biji-biji kopi nikmat yang mereka sajikan. Jadi, kamu bukan hanya bisa nyicip di tempat, tapi juga membawa pulang untuk kemudian diseduh di rumah sambil nyantai dan dengerin lagu favorit.

Harga sajian di Main Kopi nggak kalah miring dengan Sendja Utama Kopi. Untuk satu robusta dampit dengan metode V60, misalnya, kamu hanya perlu membayar Rp. 17.000. Dan jika kamu mau membawa pulang salah satu biji kopi yang dimiliki Main Kopi, mereka rata-rata hanya membandrol 250 gr biji kopi seharga Rp. 70.000. Gratis dihaluskan dan konsultasi tentunya.

Nah, itulah 2 kedai kopi di Depok yang perlu kamu coba. Kalo kamu punya rekomendasi tempat ngopi yang lain atau pernah nyoba salah satunya, tulis pendapatmu di kolom komentar, ya.

Mengutip dari jargonnya Main Kopi, “Ayo selamatkan masyarakat Indonesia dari kekurangan kafein.”

Baca: Kopi dan Traveling ternyata nggak selalu akur, lho!

Penulis: Galih

3
Leave a Reply

Please Login to comment

Apa yang ingin kamu sampaikan?

  Subscribe  
Notify of
trackback

[…] memang sering dijadikan pilihan wisata warga Jabodetabek, baik bersama keluarga mau pun kerabat. Selain karena jarak yang dekat, Puncak juga menyajikan […]

trackback

[…] Kedai Kopi Rahasia di Depok […]

trackback

[…] awal mereka memang jadiin Hotel Cafe sebagai tempat ngopi cantik sambil dengerin live performance dari musisi lokal. Tempat ini makin cetar membahana waktu […]