Kedai Kopi di Depok yang Nggak Banyak Gaya

Depok sebenernya punya segambreng kedai kopi yang berjejer rapih di jalur yang paling diagung-agungkan pemkotnya: Margonda. Masalahnya, penawaran harga selangit aneka kedai kopi di jalur Margonda ternyata nggak melulu jalan berdampingan sama kualitasnya. Apalagi menu tambahannya, kayak ada regulasi yang mengharuskan roti bakar, pisang bakar, dan mie instan masuk di daftar menu.

Di beberapa tempat, sebutan ‘kedai kopi’ kayak sekedar kedok. Rasa kopinya ya’aduh banget. Padahal, dari segi kenyamanan, baik itu karena interior atau pun luasnya, beberapa kedai kopi tersebut udah menang banyak. Terbaik lah! Tapi sayangnya, mereka kayak terbuai sama banyaknya pelanggan yang mudah terpancing sehingga kualitas sajian yang sesuai dengan tajuk tempat itu sendiri agak terlupakan. Bahkan, ada satu tempat yang 2 kali saya datangi, dan menyajikan kopi yang warnanya hampir mirip sama teh. Soal rasa, menurut saya kopi yang saya pesan itu kurang bisa untuk disebut kopi. Entah kemana perginya citarasa pahit dan asam yang khas dengan kopi arabica premium.

Akibatnya, saya kurang percaya diri untuk ngopi di kedai kopi yang terlihat wah, meski pengunjung memadati berbagai sisi ruangannya. Tentu nggak semua, tapi cukup banyak kalo di Depok.

Berawal dari situ saya dan teman saya gelut mencari kedai kopi yang klop dengan kita. Butuh waktu dan pastinya uang-uang -uang yang banyak dalam prosesnya.

Nah, di artikel ini saya akan mengumbar dua kedai kopi yang sering saya datangi. Selain unggul dirasa sajiannya, kedua kedai kopi ini juga cingcay soal harga. 50 ribu sudah cukup untuk memesan 1 gelas kopi dan 2 jenis cemilan.

Tags: Kedai Kopi di Depok, Coffee Shop Jakarta

Habitat

Tags: Kedai Kopi di Depok, Coffee Shop Jakarta
Foto: Yoel Fermi

Habitat terletak di Jl. Rambutan, Pancoran Mas, sekitar 10 menit dari Lapangan Merpati Depok (titik koodinat). Ibarat band, Habitat itu Barasuara. Cukup riuh tapi tetap tenang. Riuhnya didapet karena letaknya berdekatan dengan Jalan Raya Sawangan, jalur yang macetnya nggak peduli siang atau sore, hari biasa atau akhir pekan. Tenangnya didapet dari jumlah pengunjungnya yang nggak begitu banyak. Jadi, siapa pun yang ngopi di Habitat memiliki risiko rendah mendengarkan gosip-gosip penuh dosa pengunjung lain.

Dilihat dari penampilan, Habitat punya sentuhan arsitektur kayak kafe pada umumnya: pencahayaan hangat, pajangan berupa biji kopi, dan kalimat motivasi klise di dindingnya. Terdapat dua lantai yang masing-masing lantainya berisi 4 meja dengan kapasitas 4 orang/meja. Tergolong kecil, tapi tetap nyaman.

Perihal kopi, Habitat masih lebih unggul dibanding kedai-kedai Kopi di Margonda sana. Jauh. Walau pun ketersediaan jenis kopinya terbilang sedikit, Habitat punya house blend yang aduhai dan bisa nutupin kekurangannya. House blend-nya merupakan percampuran 50% robusta Jawa Timur dan 50% arabica Sulawesi. Jadi meski pun setengah-setengah, citarasa asam dari arabica masih lebih dominan. Ya, maklum, kopi asal Sulawesi emang cukup terkenal sama keasamannya.

Faiz, barista Habitat, tergolong teliti dalam meracik kopi. Ia menghitung ukuran kopi, banyak air yang digunakan, dan waktu pembuatan dengan sangat presisi. Emang teoritis banget, tapi karena itu juga kopi racikan Faiz selalu terjaga kualitasnya.

Tags: Kedai Kopi di Depok, Coffee Shop Jakarta

Main Kopi

Tags: Kedai Kopi di Depok, Coffee Shop Jakarta
Foto: Vajar Sur

Main Kopi sebenernya nggak di Depok. Tapi karena jaraknya cuma 5 menit dari perbatasan Depok, jadi ya dimasukin aja. Hehehe.

Main Kopi berlokasi di Jl. Jeruk Raya, Jagakarsa, berhadapan persis dengan Rumah Sakit Umum Aulia (titik koordinat). Kalo dari Universitas Pancasila, sekali kedip langsung nyampe.

Kalo dilihat dari penampilannya, Main Kopi lebih mirip warterg. Jelas kalah telak sama Habitat. Tempatnya hanya diisi 4  meja kecil (3-4 orang/meja) dan 2 meja panjang (6 orang/meja). Jika ditambah dengan meja perintilan yang ada di deket bar dan jendela, Main Kopi secara keseluruhan dapat menampung sekitar 30 pengunjung.

Interior Main Kopi juga berkonsep sama dengan Habitat, dindingnya dihiasi seni tipografi yang kalimatnya kini menjadi slogan mereka, yakni “selamatkan Indonesia dari kekurangan kafein.” Bedanya, di salah satu sisi ruangan terdapat rak khusus biji kopi yang dijual. Yap, selain nyicip di tempat, kalian juga bisa bawa pulang kopinya untuk diseduh di rumah.

Soal rasa, harus diakui, Main Kopi lebih unggul dari Habitat. Jenis kopinya pun beragam, mulai dari robusta dampit sampai arabica sidikalang tersedia di Main Kopi. Menurut penuturan pengelolanya, beberapa biji kopi di Main Kopi ada yang didapat langsung dari petaninya. Nggak sembarang orang bisa punya akses itu. Jadi bisa kalian bayangkan, betapa selektif dan hati-hatinya orang-orang Main Kopi dalam menentukan sekaligus menjaga kualitas rasa sajiannya.

Dalam proses meracik, Main Kopi lumayan beda sama Habitat. Di sini, baristanya kayak main insting. Mereka terlihat nggak terlalu baku sama teori yang ada. Tapi hasilnya, wah, nggak ada obat!

Di Main Kopi sebenarnya ada 3 barista, tapi cuma satu yang fokus untuk ngeracik kopi. Dua lainnya bakal turun ngebantu barista utamanya kalo pesanan yang masuk sudah menumpuk dan terlalu sulit untuk dihandle sendiri. Jadi maklumin aja dan bersabarlah. Usaha lebih emang dibutuhkan untuk mendapatkan sesuatu yang istimewa, toh?

Tags: Kedai Kopi di Depok, Coffee Shop Jakarta

Baca: Kopi dan Traveling ternyata nggak selalu akur, lho!

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *