Mainstream, Antimainstream, Rigebeget!

Dari kejauhan, Bagol, temen sejawat saya di Yayasan Kasih Lingkungan atau disingkat Yakali,  menghampiri lalu memberikan pertanyaan bersyarat, “Gue mau traveling nih. Destinasi yang antimainstream apa, ya?” Mata saya menampis tatapan harap Bagol. Mulut saya sibuk, tapi tak ada satu pun kata yang saya ucapkan, gorengan bakwan yang sedaritadi saya kunyah tak kunjung tertelan. Saya bingung, haruskah saya memberikan jawaban atau justru mengutarakan satu kata yang spontan terlintas di kepala: asu!

Disela-sela kesibukan saya mengunyah gorengan sambil mikirin respon yang harus saya beri ke Bagol, tiba-tiba terbesit pertanyaan dasar: Apa sih mainstream? Dan apa juga perbedaannya dengan antimainstream?

Dari situ, saya coba mencari tau sari pati kedua istilah yang dari dulu tak pernah otak lumba-lumba saya ini pikirkan.

Secara gampang, mainstream itu merujuk ke hal yang biasa, standar, umum, diketahui dan dipilih banyak orang. Sedangkan antimainstream adalah jalur alternatifnya, yang beda, yang nggak semua orang tau, pernah, atau mau menempuh jalur tersebut.

Kalo diibaratkan menonton TV, cara mainstream menonton TV ya duduk di depan TV-nya. Sedangkan antimainstream bisa pake cara lain yang nggak umum, misal nonton TV tapi lewat pantulan cermin. Nggak semua orang pernah dan mau nonton TV pake cara itu. Ribet! 

Berarti kalo nonton TV lewat hape, itu antimainstream dong?

Tetep mainstream, sayangkuh! Cara di sini lebih mengartikan ke posisi si penonton. Kalo nonton TV lewat hape tapi ngelihatnya langsung ke layar, itu tetep mainstream. Kecuali, kalian nonton TV lewat hape, ngelihatnya juga langsung ke layar, tapi layarnya ditutup stiker Slank. Itu kalian langsung dicap raja antimainstream!

Eits, bentar. Kalian juga perlu sepakat kalo antimainstream itu harus dipandang objektif, meluas. Kalian bisa disebut antimainstream, kalo dianggap antimainstream, sama banyak orang! Jadi, kalo kalian adalah anak horang kayah Jekardah yang biasa naik pesawat Garuda Indonesia untuk liburan ke Surabaya, tiba-tiba ngecer naik kereta yang kursinya ngajarin kita disiplin ala militer, itu belum bisa disebut antimainstream. Soalnya, banyak orang yang TAU, PERNAH, dan MILIH moda transportasi itu untuk pergi ke Surabaya, apalagi orang misqueen kayak saya.

Untuk dicap antimainstream, apa yang kita lakuin emang harus spesifik banget. Misal dalam hal ke Surabaya tadi, biar mashook ke kategori antimainstream, moda transportasi yang kalian pilih ya harus bener-bener nggak umum. Misalnya becak. Nggak semua orang tau kalo ke Surabaya dari Jakarta tuh bisa naik becak, termasuk saya. Dan, nggak semua, atau bahkan nggak ada sama sekali, abang becak yang mau nganterin kalian liburan ke Surabaya pake becaknya. Sekali pun kalian tetep ngotot minta dianterin abang becak, pilihannya cuma dua: kalian ditolak baik-baik sama abang becaknya, atau malah ditawarin, “lu aja yang gowes! Biar meletup tuh betis!!!”

Kalo dibahas ke konteks yang lebih luas lagi, antimainstream atau mainstream tuh seharusnya jadi pilihan yang disesuaikan dengan kondisi. Ada asas kepentingan dan manfaat yang kudu diperhitungkan.

Misal, dalam pendidikan. Ya kalian tau, sistem pendidikan kita tuh borongan, menggunakan metode-metode usang, dan entah gimana masih dipaksain begitu sampe sekarang. Padahal, nggak sedikit orang atau pihak yang mengeluhkan bahwa sistem pendidikan kita perlu ditinjau ulang. Diperbaiki, karena keefektifannya dipertanyakan. Bang Indra Charismiadji, seorang praktisi dan pengamat pendidikan, dalam wawancaranya di Metro TV Februari silam pernah bilang,

“Jangan memaksakan mendidik anak-anak kita dengan pola zaman dulu. Pola pendidikan sekarang sangat berbeda.”

Ditambah lagi tuturan Goenawan Mohamad dalam bukunya Catatan Pinggir 2:

“Ada persamaan antara penemu alat-alat dan seorang penyusun konsep-konsep fisika : mereka bermula dari kebebasan jiwa, dan berlanjut dalam kreasi. Kedua-duanya menolak pengekangan. Keduanya melintasi tabu,”

Nah, di sini lah kita butuh menambahkan jalur antimainstream, misalnya dengan cara mengikutsertakan anak/adek kita ke lembaga belajar non formal yang nggak kaku, menyenangkan, dan emang sesuai dengan ketertarikan mereka. Jadi tujuannya bukan hanya untuk nambah wawasan, tapi juga menyediakan wadah untuk anak/adek kita menyalurkan bakat terpendam dalam dirinya, yang mereka suka dan mungkin lebih berguna saat dewasa kelak.

Dalam kondisi itu, penggunaan jalur antimainstream dirasa perlu. Tapi kalo beda cerita, misalnya liburan tadi, antimainstream nggak bisa dianggap sunnah apalagi wajib mudloyaq.

Liburan tuh yang dicari serunya, nilainya, bukan antimainstreamnya. Antimainstream mah cuma cara aja. Manfaatnya terlalu tipis, risikonya lebih besar. Percuma banget kan kalo bisa liburan ke tempat antimainstream, yang juga ditempuh dengan cara antimainstream, tapi ujung-ujungnya garing? Boro-boro seru atau nambahin wawasan, bisa nggak nyesel aja alhamdulillah.

___________________

Baca juga: Ribet Amat, Ngopi Dulu nih!

Penulis: Dewa Aji

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *