Dengan pepohonan rimbun dan udara sejuk, indahnya Telaga Remis tak lagi terbantahkan. Tapi jauh di belakang sana, ada pedang, darah, dan nyawa yang dipertaruhkan dalam terbentuknya keindahan ini.

Konon, telaga ini merupakan area peperangan. Dulu kala ketika Kerajaan Mataram punya kekuatan hebat, mereka mewajibkan penguasa lain memberikan upeti, termasuk Kesultanan Cirebon. Namun, Kesultanan Cirebon hendak menolak.

Pertarungan Sengit

Dikirimlah seorang pendekar bernama Pangeran Salingsingan oleh Kesultanan Cirebon untuk menghadap Kerajaan Mataram guna membicarakan perihal upeti itu. Namun di tengah perjalanan, Pangeran Salingsingan bertemu Pangeran Purbaya (nama asli: Jaka Umbaran) dari Kerajaan Mataram.

mitos telaga remis, kuningan, sejarah
Pangeran Purbaya (Sumber: Wikipedia)
mitos telaga remis, kuningan, sejarah
Ilustrasi Banten Vs Mataram (Sumber: History of Cirebon)

Mereka berselisih soal upeti, hingga akhirnya terjadilah pertarungan sengit.

Pangeran Salingsingan kewalahan menghadapi ketangkasan berperang Pangeran Purbaya. Ia mundur lalu melaporkannya ke Kesultanan CIrebon.

Pihak kesultanan tidak terima dengan hal itu. Dikirimlah lagi pendekar dengan kesaktian dahsyat bernama Elang Sutajaya.

Elang Sutajaya pun berangkat. Ia berhasil menembus Kerajaan Mataram. Dicarinya Pangeran Purbaya yang telah melucuti Pangeran Salingsingan.

Pertarungan yang sangat sengit terjadi antara Elang Sutajaya dari Kesultanan Cirebon dengan Pangeran Purbaya dari Kerajaan Mataram. Kali ini, Pangeran Purbaya yang harus mengakui kekuatan pendekar dari Kesultanan Cirebon.

Pangeran Purbaya merasa tak berdaya. Ia meminta belas kasih kepada Elang Sutajaya. Elang Sutajaya menasihati Pangeran Purbaya dengan hal-hal mendalam, termasuk tentang agama.

Pangeran Selingsingan yang kala itu mendampingi Elang Sutajaya dan mendengar nasihat pun merasa sangat tersentuh. Ia menangis tak hentinya.

Air matanya terus mengucur. Perlahan menggenang hingga akhirnya membentuk sebuah telaga.

Disaat yang bersamaan, wujud Pangeran Selingsingan pun berubah. Ia menjadi kura-kura, dan tinggal di telaga yang terbentuk dari air matanya.

Versi Lain Mitos Telaga Remis

Ada cerita versi lain terkait mitos kura-kura penunggu Telaga Remis. Alurnya sedikit berbeda. Hanya penokohan dalam cerita yang masih sama: Pangeran Selingsingan, Pangeran Purabaya, dan Elang Sutajaya.

Ilustrasi Mataram Vs VOC (Sumber: Jejak Tapak)

Dalam cerita kedua ini, peperangan antara Pangeran Selingsingan dengan Pangeran Purabaya memang sudah terjadi lama. Tidak pernah ada yang menang dalam pertarungan dua pangeran itu, alias remis.

Di masa perang tengah sengit-sengitnya, hadirlah seorang sakti mandraguna Elang Sutajaya. Ia berniat untuk menghentikan peperangan.

Pangeran Purbaya yang kala itu paling agresif dalam berperang, bertarung dengan Elang Sutajaya. Pangeran Purbaya pun gugur dalam pertarungan itu.

Anehnya, saat Pangeran Purbaya gugur di tangan Elang Sutajaya, Pangeran Salingsingan justru sedih.

Sama seperti cerita sebelumnya, tangisan Pangeran Salingsingan tak henti-henti hingga akhirnya membentuk telaga. Kini, telaga tersebut kita kenal dengan nama Telaga Remis.

Baca juga: Pulau Misterius dari Makhluk Mitologi

Penulis: Dewa

One comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *