Angin laut menampar wajah dan sekujur tubuh saya. Bunyi air yang dihantam tubuh perahu yang tengah melaju cepat terdengar bersemangat. Saya dan beberapa teman saat itu sedang diperjalanan menuju sebuah pulau kecil tak jauh dari Pulau Harapan, Jakarta. Tujuan kami snorkeling, di spot yang menurut warga sekitar adalah yang terbaik.

Bukan cuma ada saya dan teman. Di perahu itu terdapat juga beberapa pengunjung lain yang sepertinya berasal dari luar Jawa.

Sesampainya di spot snorkeling, semua orang yang ada di perahu langsung terjun ke air dengan gesitnya. Termasuk saya, teman saya, tapi tidak dengan abang-abang nahkoda.

Saat berada di air, saya menyadari satu hal: banyak pengunjung yang tidak memakai jaket pelampung.

Tidak ada masalah dengan tidak memakai jaket pelampung, sebenarnya. Siapa pun boleh snorkeling tidak menggunakan pelampung, asalkan lumayan mahir berenang dan punya banyak amalan baik dalam hidup. Tapi, di luar itu semua, yang terpenting adalah jangan menginjak terumbu karang.

Bukan berarti tidak membuang sampah sembarangan itu tidak penting. Keduanya sama-sama penting. Namun, terasa sangat lucu jika hal itu masih terus-menerus diingatkan.

Menjadikan terumbu karang sebagai pijakan ketika snorkeling sepertinya bukan perilaku yang baru. Siapa pun yang pernah snorkeling pasti pernah juga melihat itu, atau bahkan melakukannya. Permasalahannya, terumbu karang bukanlah pijakan. Terumbu karang tidak boleh diinjak bahkan disentuh.

Memangnya, kenapa terumbu karang tidak boleh disentuh atau dijadikan pijakan?

Sederhananya adalah: rusak.

Bayangkan ada bunga mawar yang sedang senang-senangnya tumbuh subur, kalian injak tanpa ampun. Tidak mungkin ia kembali tegak karena batangnya ringkih dan tidak elastis. Dengan kata lain, ia pasti mati.

Hal itu pun akan terjadi pada terumbu karang. Meski tubuhnya terasa lebih keras dan kokoh dibanding bunga mawar tadi, bukan berarti ia kebal atas segala gangguan. Ia pun ringkih, terlebih diperburuk dengan kondisi air yang terlihat sehat padahal tidak terlalu.

Bahkan, Megan Denny, seorang penulis sekaligus anggota Professional Association of Diving Instructors (PADI), pernah bilang:

“Your fins can create a small wave that will disrupt the layers of sediment below… Breaking off just a small piece of coral can do damage that will not repair itself within your lifetime.”

Terumbu karang dan kita

Terumbu karang dibutuhkan karena memiliki aneka manfaat bagi manusia, baik itu yang dapat dirasakan secara langsung mau pun tidak. Terumbu karang menjadi rumah bagi banyak jenis ikan yang kita makan. Baronang, kerapu, sampai ekor kuning membutuhkan terumbu karang untuk hidup. Jika terumbu karang mati, besar kemungkinan hal itu pun terjadi pada ikan-ikan barusan.

Bukan hanya itu, terumbu karang turut berguna di ranah medis. National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA-Amerika) pernah bilang, beberapa jenis terumbu karang merupakan salah satu bahan pembentuk obat gangguan jantung, kanker, dan alzheimer.

Permasalahannya, kondisi terumbu karang di Indonesia tergolong miris. Data dari LIPI pada 2016 menunjukan, 35,15% terumbu karang kita berkondisi jelek, dan hanya 6,39% yang masuk dalam kondisi sangat baik. Padahal, luas terumbu karang Indonesia mencapai 25.000 km2 atau sekitar 10 persen dari luas terumbu karang dunia.

Agak naif jika hingga hari ini kita tidak peduli dengan alam. Sebagian nasib dan umur kita tergantung dengan kondisinya. Rasanya tak perlu sampai mendonasikan uang banyak atau berbondong-bondong jadi volunteer Greanpeace, kita tetap bisa menjaga alam dengan mengubah kebiasaan-kebiasaan kecil seperti menggunakan lampu hemat energi, membawa kantung pribadi ketika berbelanja, dan tentunya, tidak merusak apa pun saat liburan.

Selamat melanjutkan hidup. Semoga esok polusi dapat berkurang.

One comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *