Andi terlihat berjalan dari kejauhan menghampiri saya yang tengah duduk di bagian depan warung kopi. Teman sejak SMP itu baru saja pulang liburan dari Pacitan. Wajah kucel dan kemeja serampangan yang dikenakannya seakan menggambarkan keseruan yang Ia dapat di sana.

Sayangnya, itu hanya anggapan.

Andi menelan pahit. Nggak banyak tempat yang Ia kunjungi. Alasannya beragam, mulai dari terlalu ramai hingga ‘kurang banget’. Entah apa maksudnya. Hanya dia, Tuhan, dan pasangannya yang egoislah yang tahu.

Teman saya itu kebingungan. Di hari pertama, di tempat pertama, Ia dikejutkan dengan jumlah pengunjung, yang menurut pandangannya, mencapai ribuan. Cukup masuk akal, mengingat Andi memang pergi di musim liburan.

“Tapi, ini tuh rame banget. Rame gila. Nggak pernah lu lihat, apalagi kebayang ada rame se-rame itu,” tutur Andi menjelaskan yang sedikit banyak berbalut emoseh hingga keluar partikel cairan tak terkendali dari mulutnya.

“Wajar. Nikmatin aja sih. Lebay dah. Lagian, dapet ide dari mana emang?” potong saya.

Ternyata daftar destinasi yang dibuat Andi terinspirasi dari sebuah artikel website yang sepertinya cukup akrab dengan Google. Semuanya dari situ. Dua artikel teratas yang diakses lebih dari 1000 orang tiap bulannya.

Menurut saya, artikel-artikel keroyokan yang memiliki judul seperti 56+ destinasi wisata paling hits atau 100 tempat wisata kece terbaik memang digunakan hanya untuk memicu ide (dan traffic website tentunya). Perlu digali lagi.

Saya juga suka buka artikel seperti itu, kok. Bahkan saya pernah membuatnya, nih: (hehehe)

Berawal dari masalah Andi, saya terpikirkan untuk membuat artikel ini. Membahas tentang bagaimana cara saya mencari tempat wisata yang sesuai selera, budget, dan tentunya mood.

Caranya lumayan sederhana dan, menurut pengalaman saya, frekuensi keberhasilannya tinggi. Hanya mengandalkan dua aplikasi yang saya yakin betul ada di handphone kamu.

Medsos-medsos lebih dari website, boom!

Yap, media sosial. Gunakanlah! Entah itu Facebook, Twitter, atau Instagram. Kalo saya pribadi, lebih seringnya pakai Instagram.

tips, cara, mencari tempat wisata, bandung, bali,

Kok medsos?

Medsos, dalam hal ini Instagram, itu punya banyak ‘karyawan’ dibanding website yang mengulas tempat wisata. Karyawan-karyawan tersebut juga lebih gesit, lebih niat, dan lebih loyal dalam mengunggah konten yang diliputnya. Jadi untuk urusan up to date, medsos memang rajanya.

Disaat yang bersamaan, banyak orang-orang yang, sebut saja kreatif, memanfaatkan pola tersebut. Orang itu membuat akun semacam komunitas, yang biasanya bertema spesifik, dengan konten hasil repost atau mencatut dari konten yang diproduksi orang lain – secara cuma-cuma.

Nah, akun-akun seperti itulah yang kamu gunakan untuk mencari tempat wisata yang kamu mau.

Sebagai contoh, anggaplah kamu mau liburan ke Bali. Dengan memantau aneka unggahan akun-akun model wisatabali atau balihits, kamu bisa dapat inspirasi lebih luas, atau mungkin sebuah tempat wisata baru yang bahkan belum terulas di website-website wisata umumnya.

Kamu hanya perlu berselancar di profil akun tadi, cari foto yang menggambarkan tempat wisata yang kamu mau, lihat lokasinya pada kolom caption, lalu telusuri lebih lanjut di Google. Bila perlu, tanyakan langsung info tempat tersebut ke orang yang fotonya di repost.

Google Maps, Bukan Peta Biasa

Terawang, lihat, tuju – mungkin itu slogan yang menggambarkan saya saat menggunakan Google Maps untuk mencari tempat wisata. Menurut saya, cara ini lebih enak walau pun memakan proses yang sedikit lebih rumit dibanding medsos tadi.

tips, cara, mencari tempat wisata, bandung, bali,

Misalnya kali ini kamu mau ke Bandung. Coba deh buka peta Bandung di Google Maps terus zoom-in. Zoom-in ke area kota atau pun area hijau, terserah kamu. Jika kamu mau yang sejuk-sejuk seperti curug atau perbukitan, maka zoom in-lah ke area hijau. Namun bila kamu sedang mencari kafe atau pusat perbelanjaan, maka zoom in-lah ke area kota.

Saat kamu zoom in, akan banyak muncul titik koordinat suatu tempat. Semakin kamu zoom in, Google Maps akan menampilkan titik koordinat yang lebih detil, bahkan hingga mencakup warung-warung kecil. Tugasmu selanjutanya adalah memilih mana yang sekiranya menarik.

Menarik atau nggaknya suatu tempat dapat kamu ukur melalui kolom komentar. Di kolom tersebut, terdapat aneka ulasan dari orang-orang yang pernah ke sana. Nggak jarang juga mereka memberikan info tentang harga tiket masuk hingga fasilitas yang tersedia. Sisanya tinggal kamu nilai dan tentukan sendiri.

Tambahan:

Di beberapa tempat, Google juga dapat menunjukan ‘jam ramai’. Jadi, kamu bisa menyesuaikan waktu kedatangan jika kamu nggak ingin ramai-ramai banget.

Gimana? Cukup membantu? Tidak? Oke.

Kalo kamu punya ide tambahan, share di kolom komentar, ya. Nanti bakal dimasukin ke artikel!

Penulis: Galih

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *