Ciao Lucifer, mungkin masih banyak yang belum dengar tentang duo asal Amsterdam, Belanda, yang didalangi oleh Marnix Dorrestein dan Willem Wits ini. Beberapa bulan lalu, Ciao Lucifer memang sempat datang dan tampil di beberapa daerah di Indonesia, seperti Yogyakarta, Solo, dan Jakarta. Ga cuma itu, mereka juga sempat berkolaborasi dengan para musisi Indonesia, yaitu Rubah Di Selatan dan Bottlesmoker.

Pertama kali saya dengar tentang Ciao Lucifer pun sebenarnya terbilang ga sengaja. Di tengah kegabutan Sabtu sore, saya lihat postingan akun instagram Erasmus Huis tentang Ciao Lucier yang bakal tampil malam itu. Karena ada unsur gratisannya, saya akhirnya melangkahkan kaki ke pusat kebudayaan Belanda yang berlokasi di kawasan Kuningan tersebut, tanpa berbekal info apa pun tentang band duo yang akan saya saksikan.

Ketika sampai di lokasi, saya pun cukup kaget ternyata sudah banyak orang yang hadir di sana. Pertunjukan musik pun dimulai dengan penampilan pembuka dari duo musisi elektronik asal Bandung, Bottlesmoker. Seketika, suasana auditorium Erasmus Huis pun berubah menjadi Dragonfly, dengan gemerlap permainan lampu mengikuti irama musik yang ‘jedag-jedug’.

Setelah asik goyang selama kurang lebih 45 menit, saatnya Ciao Lucifer tampil memainkan musik mereka. Panggung terlihat sederhana dan hanya terlihat satu set drum dan gitar. Ketika mereka mulai memainkan lagu pertama yang berjudul Replace You, saya pun kaget ternyata musiknya terdengar ramai.

ciao lucifer

Sesekali tingkah Willem dengan gayanya yang unik saat memainkan drum membuat penonton tertawa. Apalagi waktu mereka membawakan Any Blink Now hanya dengan siulan dan petikan gitar, saya pun langsung merinding disko saking enaknya. Malam itu, sekitar 15 lagu dibawakan oleh Ciao Lucifer dan sejak saat itu pula saya jatuh hati dengan musik mereka.

Nah, beberapa hari lalu, tim Gloob! sempat melakukan interview kecil-kecilan dengan Ciao Lucifer. Mereka pun bercerita tentang awal mereka terbentuk hingga pengalaman mereka selama melakukan perjalanan ke Indonesia.

Bagaimana sih kalian berdua bisa bertemu?

Kami bertemu saat masih berusia 14 tahun. Saat itu, kami bersama teman tampil dalam sebuah acara kecil-kecilan. Karena kami hanya sempat melakukan 1 kali latihan dan harus tampil selama 45 menit, hasilnya pun sedikit berantakan tapi jadinya sangat menyenangkan.

Apa yang membuat kalian akhirnya membentuk duo Ciao Lucifer?

Kami memiliki banyak energi untuk memainkan beragam alat musik. Jadi, menurut kami berdua saja sudah cukup lah.

Bagaimana kalian mendeskripsikan genre musik kalian?

Kami tidak membatasi genre musik yang kami bawakan. Bisa dibilang, genre musik kami adalah ‘musik dansa dengan iringan gitar’.

Di beberapa sumber, kalian menyebut traveling sebagai menjadi bagian penting dalam bermusik. Pengalaman terbaik apa yang pernah kalian dapat selama traveling?

Selama traveling, kalian mungkin bisa mendapat inspirasi dari apa yang kalian lihat atau temui. Nah, musik kami memang ga jauh-jauh dari apa yang kita alami selama traveling. Contohnya, kami terinspirasi untuk menulis Any Blink Now saat kami melakukan perjalanan ke Swedia dan baru selesai saat kami tiba di pinggiran Prancis.

Saat itu, kami merasa hidup di dalam mimpi. Perjalanan terasa sangat cepat dan banyak pengalaman berkesan. Namun, rasa khawatir terkadang muncul entah itu saat kami terdiam atau sekedar menatap langit. Tentang keluarga, teman, atau asumsi kami sendiri. Like I said, ‘so worry all the time about the things I have to do. But then I’ll see, all those worries didn’t make a better me’. Jadi kami berusaha tetap menikmati perjalanan kami.

Hal apa yang tidak bisa kalian lupakan saat traveling di Indonesia?

Bagi kami, Indonesia menjadi salah satu negara paling berkesan yang pernah kami datangi dan mungkin terjauh. Kami pun merasa beruntung ketika diberi kesempatan untuk berkolaborasi dengan musisi lokal, seperti Rubah Di Selatan dan Bottlesmoker. Ga cuma menyenangkan, kami juga terinsprasi dengan musik mereka.

Saat di Jogja, mereka juga selalu memberi kami makanan terenak yang pernah kami makan. Di negara kami (Belanda), kami hanya sarapan dengan roti dan selai kacang. Jelas tidak enak dan jauh berbeda.

Apa sih goal kalian sebagai musisi dan apa yang ingin kalian capai di tahun ini?

Kami ingin menghasilkan lebih banyak musik groovy untuk membuat orang-orang berdansa dan mengenalkan musik kami di mana pun. Dan yang pasti, kembali tampil di Indonesia.

Siapa musisi yang sangat ingin kalian ajak berduet?

Kami sangat ingin berduet dengan M.I.A.

Jika kalian tidak pernah bertemu, apa yang sedang kalian lakukan saat ini?

Marnix mungkin sudah menjalani profesi sebagai penata rambut dan saya (Willem) sudah menjadi penjaga kebun binatang.

Apa saja 3 lagu yang paling sering kalian dengar akhir-akhir ini?

Love and Death by Nana Adjoa, Pancakes and Pi by 45 Acid Babies, dan Love Me Less by Sofie Winterson.

Pertanyaan terakhir, apa yang membuat kalian berhenti bermusik?

Kami tidak berencana untuk berhenti dan ingin selalu menghasilkan musik sepanjang hidup kami. Bahkan jika mungkin, kami akan bermain musik di acara pemakaman kami sendiri.

ciao lucifer

Teks: Elsa

Baca juga:

Leave a Reply

Please Login to comment

Apa yang ingin kamu sampaikan?

  Subscribe  
Notify of