Jam 2 dini hari. Kota Tasikmalaya begitu hening. Saya menghentikan laju mobil di salah satu area beristirahat para pendatang.

Sepertinya saat itu hanya ada saya. Tak satu pun kendaraan yang melintas di jalanan sebesar ini. Saya beristirahat. Memulihkan tenaga yang habis dilucuti keseruan Pangandaran.

Malam sirna, pagi menyapa. Masih sepi. Saya harus bergegas. Gunung Galunggung adalah tujuan saya kali ini. Kopi hangat dengan sentuhan drama tak luput dari rutinitas pagi. Bergegas.

Kendaraan saya laju tepat pukul 6. Udara dingin masuk dari celah kaca yang sedikit terbuka. Beberapa lagu andalan John Mayer dimainkan pemutar musik. Tenang dan senang.

Dari kota, hanya butuh 40 menit untuk mencapai Gunung Galunggung. Tapi saya tidak melakukan itu. Saya memperlambatnya. Menikmati setiap inci kota ini. Yang sejuk. Yang indah berbalut kabut.

Tasikmalaya begitu cepat berlalu.

Masih beberapa meter di depan, seorang pria 30-an dengan jaket tebalnya mengangkat tangan dari gerbang masuk Gunung Galunggung. Segera saya hampiri. Kami sedikit berbincang. Perizinan.

Satu saran yang diberikan pria tadi, “jangan membuka kaca terlalu lebar. Banyak hewan.” Monyet, maksudnya.

gunung galunggung, pendakian, mitos, mistteri, cara biaya, tiket masuk

Saya sudah masuk di kawasan Gunung Galunggung. Butuh beberapa menit lagi untuk mencapai titik awal pendakian. Kali ini, jalanan lebih terjal dari sebelumnya. Begitu pun kesunyiannya. Hanya desis angin di antara pepohonan dan nyanyian burung-burung kecil yang terdengar.

Saat sampai di titik awal pendakian, kendaraan saya parkirkan di ujung area. Lagi-lagi tak ada orang. Hanya saya dan beberapa warung kecil yang masih tertutup pintunya.

Saya beristirahat lagi. Menunggu. Menulis. Menikmati.

Menapaki ratusan anak tangga

Terdengar suara manusia. Beberapa penjaga warung mulai membuka warungnya. Saya pun terjaga. Menghampiri. Lagi dan lagi, kopi hangat.

Obrolan pagi dengan ibu penjaga warung. Senyum hangatnya mengantar kami ke topik yang dalam. Kehidupan. Dan tentu, beberapa saran.

Katanya, akan lebih baik saya sedikit melakukan pemanasan. Ada 610 anak tangga yang harus saya tapaki untuk ke puncak Gunung Galunggung.

Saran yang baik. Saran yang melelahkan. Sungguh malas.

Kini anak tangga itu angkuh berdiri di hadapan saya. Ujungnya tidak terlihat. Entah karena telalu jauh atau tertutup kabut yang sedari tadi masih betah mengelilingi saya. Tak apa. Saya coba.

Langkah demi langkah saya ambil. Anak tangga ini lebih tinggi dari anak tangga rumahan. Dengan mudahnya Ia membuat saya lelah. Dengan mudahnya Ia menggoda saya untuk menyerah.

Untunglah udara ini sejuk. Untunglah ada tempat beristirahat berupa balai di tiap berapa meternya. Untung juga ada yang menyemangati saya. Pohon-pohon itu. Pohon-pohon kerdil di samping pagar tangga yang berdiri lurus di tanah yang miring.

Perlahan. Secara perlahan saya lalui tangga ini. Menit demi menit usia saya terbuang.

Di balai ke sekian, entah ke berapa, tangga ini mulai malas menggoda. Area parkir tidak terlihat. Kabut masih saja betah. Ujung tangga sudah dijangkauan mata. Sedikit lagi. Ayo, sedikit lagi. Bernapas agak sulit, keringat berkucuran tak habis-habis.

Saya sampai. Puncak Gunung Galunggung.

Tempat ini seperti lapangan. Luas. Lapang. Warung-warung sederhana terdapat di beberapa sisi. Ada yang di sebelah kiri tangga tempat saya berdiri, ada yang jauh di sana.

Di depan saya, bersebrangan dengan tangga ini, ada tangga lain. Kali ini untuk turun. Turun ke kawah di mana ada bukit di tengahnya. Bukit kecil yang menyendiri di tengah air tenang tak bergelombang. Keduanya berwarna hijau. Air dan bukit itu. Sangat selaras.

Misteri di balik Gunung Galunggung

Saya singgah di warung sebelah kiri saya. Mengambil air minum untuk menggantikan keringat yang sedari tadi tak ada habisnya berkucuran. Bapak pemilik warung bertanya. Obrolan panjang dimulai.

Bapak pemilik warung memberi tahu saya bahwa ada jalur di balik warungnya. Jalur yang sering digunakan oleh warga sekitar untuk mencari kayu bakar atau keperluan lainnya. Menarik. Saya bertanya lebih dalam.

Di satu ketika si bapak juga bercerita bahwa ada kejadian misterius di Gunung Galunggung ini. Kurang lebih 2 minggu lalu, ada segerombolan remaja mendirikan tenda tak jauh di belakang warungnya. Di tengah-tengah jalur yang biasa digunakan warga itu. Mereka menetap untuk dua malam.

Di satu malam, saat mereka tengah asik terbahak-bahak, salah seorang keluar untuk buang air kecil. Ia mencari tempat yang agak jauh dari tenda.

Suasana sangat sunyi. Gelap gulita. Angin mendesis di telinga orang itu. Suara hutan.

Di balik dedaunan, terdapat dua cahaya kecil yang berdekatan, membentuk seperti sepasang mata. Orang itu segera balik ke tendanya. Terburu-buru. Berusaha untuk melupakan. Ia menceritakan hal itu ke teman-temannya. Mereka mencoba tenang. Sayangnya tak berhasil.

Malam semakin larut. Mereka mengistirahatkan diri. Tanpa obrolan, hanya suara napas, dan terkadang gesekan daun yang terdengar ditelinga. Di tengah usaha melelapkan diri, terdengar suara langkah. Pelan dan berhati-hati. Mengelilingi tenda dan mereka yang ada di dalamnya. Tak ada yang berani keluar, bahkan untuk menegur teman sebelahnya sekalipun.

Mereka hanya terdiam. Mengharap terang segera datang. Kegiatan mereka tak sesuai dugaan. Tak begitu menyenangkan.

Bapak pemilik warung membenarkan bahwa memang ada satu sosok menyerupai kucing besar, sangat besar, yang tinggal di puncak Gunung Galunggung. Menyerupai macan, hanya saja berwarna putih sepenuhnya. Tutur si bapak, Ia adalah penjaga Gunung Galunggung.

Ia dapat keluar sewaktu-waktu. Tak terduga. Tak peduli malam atau pun siang.

Mitos yang tersebar

Saya memotong obrolan. Penasaran dengan segala hal yang bisa dirasa di jalur itu. Saya bertanya ke bapak pemilik warung. Katanya, boleh saja, asal jangan terlalu jauh dan terlalu lama. Segera kembali saat hari mulai gelap atau kabut pekat turun.

Kabut pekat turun?

Saya melangkah ke balik warung. Terlihat jalan setapak. Saya mulai menelusuri jalur itu. Basah. Kiri kanannya masih dipenuhi semak belukar dan rerumputan. Padat. Pepohonan yang rata-rata tingginya tak lebih dari 5 meter beberapa kali saya lintasi.

Saya sudah seperempat jalan. Terlihat dari kejauhan warung si bapak yang saya lupa tanyakan namanya tadi. Jalur ini memutar. Saya dapat kembali ke tangga awal saya masuk jika saya terus menelusuri jalur ini.

Perjalanan saya lanjutkan.

Tak lama berselang, muncul sebuah perasaan. Perasaan yang mampu menghentikan langkah saya. Saya berhenti dan merenung. “Rasa apa ini,” pikir saya waktu itu. Sungguh tidak nyaman. Benar-benar tidak nyaman.

Berselimut bingung dan gelisah, saya mengambil langkah ke belakang. Perlahan demi perlahan. Saya terus melangkah ke belakang. Kembali. Semakin cepat.

Di tengah perjalanan kembali ke warung, saya berpapasan dengan warga yang mengambil kayu. Kami bertegur singkat. Warga tersebut tanpa penyambung obrolan berbicara, “Sendiri? Balik saja ke sana, Mas.” Maksudnya warung tadi. Dan saya mengiyakan tanpa bantahan sedikit pun.

Sepanjang perjalanan kembali ke warung, tak ada satu pun pikiran yang terbesit selain “segera sampai ke warung”. Saya sepenuhnya bingung. Ini kali pertama saya merasakan hal seganjil ini.

Sesampainya di warung, saya memesan teh hangat ke si bapak pemilik warung yang bercerita tentang sosok misterius tadi. Saya sedikit menenangkan diri. Menghela napas dan memikirkan apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Saya meyakinkan diri untuk bertanya ke si bapak. Tanpa ragu si bapak pun menjawab. Dengan yakin ia bercerita,

“Di sana ada bak mandi, Mas. Bak mandinya digunain untuk semacem pemujaan, meminta sesuatu. Nggak sedikit yang pernah ke sana. Pada mandi pakai air yang ada di bak itu. Biasanya, tempat itu ramai di hari-hari sakral kayak satu suro.”

Semakin menjadi-jadi Gunung Galunggung ini. Saya yang tidak terlalu percaya dengan hal semacam itu, dibuatnya bingung. Aura yang tidak biasa. Terlalu kuat untuk saya hiraukan. Terlalu kuat untuk siapa pun.

Sosok misterius, tempat pemujaan, apa lagi?

gunung galunggung, pendakian, mitos, mistteri, cara biaya, tiket masuk

Saya tak kunjung tenang. Saya butuh waktu lebih. Lebih lama. Lebih ramai.

Hari sudah siang tapi kabut belum lelah menutup sebagian besar pemandangan di Gunung Galunggung. Saya putuskan untuk singgah lebih lama. Setidaknya, sampai ada tenaga untuk menuruni ratusan tangga tadi. Dan tentu keberanian.

Segelas teh, kawah Gunung Galunggung yang serba hijau, dan pengalaman menakutkan itu mengantar saya menikmati sore di Tasikmalaya yang ramah. Saya tak akan lupa. Saya pasti kembali.

Akses / rute ke Gunung Galunggung

Untuk mencapai Galunggung, kamu bisa berkendara menggunakan mobil atau motor pribadi ke arah Desa Linggajati, Kabupaten Tasikmalaya: Titik koordinat.

Dari kejauhan, kamu akan dipermudah dengan penampakan megahnya gunung tersebut. Waktu yang dibutuhkan untuk menapakan kaki di Galunggung dari pusat kota Tasikmalaya sekitar 40menit.

Harga tiket masuk Gunung Galunggung

Dari segi biaya, berwisata ke Gunung Galunggung merupakan salah satu pilihan terbaik. Bukan hanya karena aksesnya yang mudah, tapi harga tiket masuknya pun tergolong murah, yakni Rp. 6.500/orang. Nantinya, kamu hanya tinggal membayar parkir. Biaya parkirnya pun tidak ditentukan besarnya. Seikhlas kamu untuk memberi.

Perihal jajanan, di sini harganya juga normal, nggak terlalu dibedakan. Misalnya mie instan, untuk satu mangkuknya, tanpa telur, kamu hanya perlu mengeluarkan biaya sebesar Rp. 7.000. Begitu pun kopi. Harganya cuma Rp. 3.000.

Nah, yang mungkin agak ribet adalah camping di Gunung Galunggung ini.

Bisa kok, kamu hanya tinggal izin ke pihak pengelola. Kamu tinggal tanya pas di gerbang masuk cara dan biaya untuk bermalam alias camping di objek wisata ini. Soal biaya yang harus keluar untuk camping, itu bisa beda-beda, tergantung kamu datangnya musim liburan atau biasa.

Tapi sedengernya, camping di Gunung Galunggung nggak sampai Rp. 50.000 per malam untuk satu orang.

Nah, itu beberapa info yang mungkin bisa membantumu jika ingin berwisata ke Gunung Galunggung. Kalo kamu punya info tambahan atau mau sharing pengalaman, tulis di kolom komentar, ya.

Have a nice trip, guys!

Baca juga:

3
Leave a Reply

Please Login to comment

Apa yang ingin kamu sampaikan?

  Subscribe  
Notify of
trackback

[…] Terbata-bata Galunggung Tasikmalaya […]

trackback

[…] Baca juga: Tantangan Tasikmalaya […]

trackback

[…] Baca juga: Terbata-bata Galunggung Tasikmalaya […]