Gunung Kapur Klapanunggal sebenarnya bukan lokasi wisata, melainkan area penambangan semen. Tapi karena pemandangannya eksotis, agak sulit untuk menolak godaannya.

Rabu pagi saya pacu sepeda motor kesayangan melewati sengitnya Jalan Juanda Depok. Matahari belum bangkit betul. Walau bercampur dengan polusi, udara segar sesekali menghempas wajah saya.

Foto: Gloob/Dewa

Utha Likumahuwa dan Sheila Majid terus berdendang di telinga. Dua tiga lagu selesai, saya pun telah sampai di Jalan Tapos yang penuh lika-liku.

Perjalanan berlangsung lancar. Tak terasa sudah setengah jam saya memacu motor. Jalanan yang saya lewati sekarang lebih lebar dan dihuni oleh truk-truk besar. Ditambah dengan tebalnya debu yang berterbangan, saya yakin bahwa ini adalah kawasan industri.

Dibantu Google Map, saya akhirnya sampai di perumahan yang saya tuju. Terlihat dari kejauhan, bukit-bukit berbentuk unik menjulang tak begitu kokoh dengan sisa-sisa tubuhnya.

Saya langsung menghampiri lokasi bukit itu. Tapi sebelumnya, saya harus melewati jalanan tak beraspal, penuh bebatuan, dan sempit. Jalanan ini tembus ke persimpangan jalanan yang lebih lebar, sangat berdebu, dilalui begitu banyak truk, namun tetap tak beraspal.

Entah mana jalan yang benar. Saya asal saja. Berpatokan bukit unik yang sudah saya lihat dari kejauhan tadi.

Bukit dan goa

Dari jalanan sempit, lalu berdebu, sekarang saya masuk ke area persawahan. Sungguh perubahan yang drastis dan aneh.

Gunung kapur klapanunggal, foto, rute, akses, biaya
Foto: Gloob/Dewa

Pemandangan hijau di depan saya kali ini membuat cukup bingung. Tapi tak masalah, saya menikmatinya. Sangat menikmatinya.

Saya menghentikan motor di salah satu petak sawah, persis di sebelah bukit unik yang sedari tadi saya tuju. Melihat sekeliling, banyak pekerja tambang di kejauhan melakukan tanggung jawabnya. Beberapa alat penambangan juga berserakan di sebagian titik.

Saya berkeliling, memotret, dan melihat lebih dekat segala keindahan yang tak sengaja terbentuk itu. Hembus angin mendesis di tangan saya. Udara yang saya rasakan tak seperti udara pagi pada umumnya. Udara ini jauh lebih segar.

Di balik bukit unik, ada sepetak tanah yang hanya diisi sedikit rerumputan. Saya berniat mengambil beberapa foto di situ. Tapi saat saya melangkah, tanah tersebut seperti menghisap kaki saya. Saya kurang tahu pasti itu tanah jenis apa. Bisa jadi tanah gambut, atau mungkin sejenis pasir hisap.

Foto: Gloob/Dewa

Di tengah kesibukan saya membersihkan tanah yang menempel di sepatu dan celana, saya melihat ke arah timur. Di sana ada sekelompok orang yang mendirikan tenda. Mereka sedang merokok dan ngobrol biasa. Saya memberanikan diri untuk menghampiri dan ingin mengajak berbincang.

Sebelum saya sampai di tempat orang-orang itu bersantai, saya baru menyadari bahwa ada goa besar tepat di belakang mereka.

Saya pun mempercepat langkah. Sesampainya di mulut goa, di depan orang-orang yang tengah camping tadi, saya langsung menegur dan bertanya apakah goa ini aman untuk ditelusuri. Saat mereka bilang iya, tanpa pikir panjang saya langsung menapakkan kaki masuk ke dalam goa.

Goa tersebut memiliki formasi dinding yang tak jauh berbeda dengan goa-goa yang pernah saya masuki sebelumnya. Saya kurang paham apa yang membedakannya. Tapi satu yang menurut saya membuat goa ini menarik adalah tingginya.

Tinggi goa ini setidaknya melebihi 15 meter, membuatnya terlihat begitu megah dan menakutkan disaat yang bersamaan. Sebagian sisi dindingnya ditinggali oleh beberapa burung dan kelelawar yang sesekali terbang sembarangan seperti ingin menghantam kepala saya.

Panjangnya pun tak seberapa. Dari dalam goa, sekitar 20 meter ke depan, saya sudah melihat mulut goa yang lain.

Gunung kapur klapanunggal, foto, rute, akses, biaya
Foto: Gloob/Dewa
Gunung kapur klapanunggal, foto, rute, akses, biaya
Foto: Gloob/Dewa

Setelah mengambil beberapa gambar, saya menyelesaikan berkeliling lalu menuju mulut goa yang tadi saya lihat.

Ternyata goa ini tembus ke petak sawah tempat saya memarkir motor. Tapi sebelum saya menuju motor saya dan berangkat pulang, saya menyadari bahwa di dinding mulut goa tersebut terdapat banyak pasak yang biasa digunakan untuk panjat tebing.

Tak lama berselang, salah satu orang yang mendirikan tenda tadi menghampiri saya. Diawali saling sapa, ia lalu menjelaskan bahwa goa ini adalah satu-satunya area yang tidak dimiliki perusahaan tambang. Siapa pun bisa ke goa ini, terlebih bagi yang gemar dengan aktivitas panjat tebing.

Ia juga menjelaskan bahwa ia dan kelompoknya tengah membangun mushola guna mempermudah teman-teman pengunjung untuk beribadah. Dan ke depannya, ia akan membangung toilet.

Kami tak berbincang panjang. Orang tenda tadi harus memeriksa mushola yang tengah dibangunnya, dan saya pun harus kembali ke Depok karena hari sudah semakin siang.

Di sepanjang perjalanan pulang, saya berpikir banyak tentang cara untuk meningkatkan kunjungan wisata ke tempat itu. Dibanding terus dikeruk, tempat itu lebih memiliki potensi untuk dijadikan lokasi wisata. Dengan udara yang sejuk dan pemandangan yang cukup asri, Gunung Kapur Klapanunggal bisa jadi sarana alternatif mencari ketenangan untuk warga perkotaan yang dipenat pekerjaan.

Foto: Gloob/Dewa
Gunung kapur klapanunggal, foto, rute, akses, biaya
Foto: Gloob/Dewa

Rute/cara ke Gunung Kapur Klapanunggal

Jika kamu mau ke sana, gunakan Google Map untuk menavigasi. Jalurnya agak rumit. Cukup atur tujuan mu ke Perumahan Coco Garden.

Saat sudah sampai di sana, kamu akan mudah menemukan jalannya. Lokasinya tepat berada di belakang salah satu cluster perumahan Coco Garden (maaf saya lupa nama clusternya). Kalo kamu masih bingung nantinya, jangan ragu untuk bertanya ke penjaga perumahan.

Sebaiknya pakai motor, sebab kontur jalur ke sana terlalu bervariatif, terlebih saat mendekat ke area gunungnya. Tapi bukan berarti kamu tidak bisa bawa mobil.

Kamu bisa bawa mobil lalu memarkirkannya di perumahan Coco Garden itu. Izinlah ke penjaga. Namun, siapkan sepeda atau kaki yang kuat karena jalan menuju ke area utama tidak terlalu dekat.

Biaya/Tiket masuk Gunung Kapur Klapanunggal

Tidak ada biaya yang harus kamu keluarkan untuk berkunjung ke tempat ini. Hanya saja, mengingat bahwa rekan-rekan pengurus sana sedang membangun mushola, akan lebih baik jika kamu menyumbangkan sedikit rezekimu.

Seikhlasnya saja. Tak ada minimal.

Nah, itu ulasan singkat tentang Gunung Kapur Klapanunggal. Jika kamu punya pertanyaan atau justru ingin menambahkan pengalamanmu di sana, kamu bisa share di kolom komentar ya. Pasti berguna banget buat temen lain yang lagi mau ke tempat itu. So, have a great trip, guys!

Baca juga:

Teks & Foto: Dewa

Leave a Reply

Please Login to comment

Apa yang ingin kamu sampaikan?

  Subscribe  
Notify of