Berawal dari rasa penasaran, kamu mulai bergerak untuk membuat akun suatu media sosial. Tujuannya tentu baik, yaitu untuk terhubung dengan teman lain yang telah lebih dulu menggunakan.

Di fase-fase yang sangat awal ini, media sosial hanya selingan. Paling hanya beberapa menit dalam sehari.

Hari silih berganti. Intensitas penggunaan media sosial pun meningkat. Mungkin yang awalnya hanya pengantar tidur, kini momen di pagi hari saat baru membuka mata diperhias dengan memeriksa gawai.

Fase terus berlanjut. Penggunaan semakin menjadi-jadi.

kecanduan media sosial, cara mengatasi, dampak negatif
Sumber: Medium

Yang dulu hanya beberapa menit, lalu berubah menjadi beberap jam, kini semakin masif, digunakan hampir di setiap kesempatan. Di kala berbincang hangat dengan kerabat atau saat mengemudi kendaraan, media sosial selalu punya tempat untuk kamu gunakan.

Di fase ini kamu juga mudah teralihkan. Belajar semakin tidak efektif, bekerja pun menurun produktifitasnya.

Dorongan untuk terus menggunakan media sosial terasa semakin luar biasa. Kamu mulai lupa bersosialisasi secara nyata. Bahkan lebih parahnya, media sosial sudah menggantikan sebagian peran manusia dalam hidupmu.

Kamu merasa lebih nyaman menggulir beranda Instagram dibanding pergi ke suatu acara musik new wave dengan kerabatmu. Kamu lebih memilih untuk menulis kegelisahanmu di Twitter dibanding bercerita dan curhat secara langsung ke sahabatmu.

Dan lagi Youtube, yang membuatmu sangat nyaman sendiri di kamar, dan lupa ada orang rumah yang ingin sekedar berbincang tanya kabar.

Refleksi tentang perilakumu yang semakin memburuk terus datang, tapi selalu mendapat sanggahan dari dirimu sendiri. Anggapan bahwa segala yang kamu lakukan adalah yang terbaik, selalu kamu telan mentah-mentah.

Kamu tenggelam di palung tanpa cahaya di mana hanya ada kamu dan kesesatan. Yang dibuat oleh dirimu sendiri, dan berdampak ke dirimu sendiri.

Kamu rentan terhadap keputusasaan. Ketidaksetujuan orang lain adalah pisau besar yang mengikis percaya dirimu. Kamu semakin menganggap dunia nyata hanya padang kering yang begitu jauh dan tak lagi penting untuk dikunjungi.

Di fase ini, bunuh diri bisa jadi pilihan paling masuk akal bagimu.

Cara mengetahui kecanduan media sosial

Jauh sebelum itu benar terjadi, akan sangat baik jika kamu sadar di mana posisimu; sudah seperti apa penggunaan media sosial dalam hidupmu.

kecanduan media sosial, cara mengatasi, dampak negatif
Sumber: Chintanpathak

Menurut penelitian Dr. Kuss dan Dr. Mark yang dirangkum di Psychology Today, terdapat cara sederhana untuk mengetahui apakah kamu sudah kecanduan media sosial atau belum.

Tugasmu adalah menjawab beberapa pertanyaan di bawah ini dengan terbuka dan sejujur mungkin:

  • Apa kamu sering memikirkan tentang ‘apa yang sedang terjadi’ di media sosial?
  • Apa kamu merasa seperti ada dorongan untuk terus menggunakan media sosial?
  • Apa kamu menggunakan media sosial untuk menghindar dari masalah yang tengah dialami?
  • Apa kamu sering gagal saat mencoba mengurangi penggunaan media sosial?
  • Apa kamu merasa gelisah saat kamu tidak bisa menggunakan media sosial, seperti ketika gawaimu tertinggal di rumah?
  • Coba perhatikan baik-baik, apa keinginan menggunakan media sosial telah menurunkan kualitas belajar atau bekerja?

Jika semua jawaban dari pertanyaan di atas adalah iya, maka besar kemungkinan kamu tergolong kecanduan media sosial. Dalam situasi ini, kamu butuh bantuan. Entah itu ke kerabat dekat, keluarga, atau langsung ke psikolog.

Namun jika kamu yakin terdapat beberapa jawaban yang tidak, maka kamu dapat melakukan penanganan secara mandiri.

Cara mengatasi kecanduan media sosial

Ada beberapa cara yang dapat kamu lakukan untuk mengurangi kebiasaan menggunakan media sosial, dan tentu mencegah kecanduan.

Cara-cara di bawah ini tergolong sederhana. Jika kamu merasa mampu, lakukan sendiri. Tapi jika kurang yakin, pinta orang dekat untuk membantumu. Kuncinya adalah disiplin.

kecanduan media sosial, cara mengatasi, dampak negatif
Sumber: Eweev

Berikut langkah-langkah yang dapat kamu lakukan untuk mengatasi kecanduan media sosial:

  • Kurangi lama penggunaan secara bertahap. Misal yang awalnya 1 jam dalam satu sesi, dikurangi menjadi 45 menit dalam satu sesi. Begitu pun selanjutnya.
  • Biasakan untuk tidak menyentuh gawai di jam-jam tertentu, mulai dari ketika makan.
  • Buat jadwal spesifik di mana kamu boleh membuka media sosial. Misal Facebook hanya boleh dibuka di jam 17.00-17.30; Twitter di jam 20.00-20.30.
  • Matikan notifikasi dan jangan gunakan gawai untuk alarm. Itu akan menimbulkan keinginan untuk membuka media sosial.
  • Gunakan aplikasi khusus yang mengingatkan sudah berapa lama kamu menggunakan gawai.

Jangan ragu untuk meminta bantuan teman. Kamu bisa coba membuat permainan sederhana yang dapat mencegah kamu membuka media sosial ketika berkumpul dengan mereka. Sebagai contoh, orang yang pertama kali membuka media sosial harus membayar makanan yang dipesan.

Intinya adalah lakukan hal yang lebih menarik dan sibuk dibanding bermain gawai, dan sebisa mungkin nikmati prosesnya. Tanpa kemauan yang kuat dari dirimu sendiri, seorang psikolog kawakan pun tak mampu membantumu.

Dampak negatif yang belum begitu diperhatikan

Dampak buruk menggunakan media sosial secara berlebihan bagi kesehatan dan kehidupan nyata sangatlah menggunung. Kamu bisa dengan mudah mencari kasus-kasus terbarunya di Google. Namun, ada satu dampak negatif yang masih belum mendapat perhatian besar. Ia adalah data.

Apa yang kamu sukai di Instagram, apa yang kamu ikuti di Twitter, apa yang kamu baca di Facebook meruapakan data tentang dirimu, tentang perilakumu, tentang sudut pandangmu.

Hampir segala hal yang kamu lakukan di media sosial dapat menjadi data. Data yang menggambarkan siapa dirimu. Data yang bisa digunakan untuk membantumu menyelesaikan masalah, sekaligus mengubah pola pikir dan kemudian memperalatmu.

Kamu pasti pernah mendengar Cambridge Analytica, sebuah konsultan politik asal Amerika, yang pada 2018 lalu skandalnya terkuak. Di dalam skandal tersebut, tidak mengejutkan, Facebook tersangkut.

Jumlah data yang dicuri berdasarkan negara. (Sumber: Wikipedia)

Singkat cerita, Cambridge Analytica mencuri informasi dari sekitar 50 juta pengguna Facebook melalui sebuah aplikasi ‘abal-abal’. Semua data pribadi yang diperoleh, digunakan untuk merancang strategi politik yang dibutuhkan ‘kliennya’.

Mungkin kamu masih bingung, bagaimana caranya? Berikut contoh sederhananya.

Bayangkan di Facebook kamu sering memberikan Suka pada postingan yang membahas tentang lingkungan hidup. Kamu juga mengikuti akun-akun yang bertema lingkungan hidup.

Maka dari kegiatanmu di Facebook itu, munculah kesimpulan yang menjelaskan bahwa besar kemungkinan kamu adalah pribadi yang perhatian dengan kondisi lingkungan hidup.

Data itulah yang digunakan Cambridge Analytica untuk membuat kampanye. Kampanye yang menebar program manis dan terdengar sangat dekat dengan kegelisahanmu. Yang cukup mungkin membuatmu tergugah untuk memilih tokoh yang membuat program tersebut.

Intinya, tidak pernah ada larangan untuk menggunakan media sosial. Semua orang bisa dan tentunya boleh untuk bermain salah satu produk perkembangan zaman ini. Namun, porsinya haruslah dijaga.

Stephen Hawking pernah bilang bahwa kita sebagai manusia memang sangat kecil, tapi kita mampu melakukan berbagai hal yang sangat besar. Terjebak dalam lika-liku fana media sosial hanya akan menghambat pengalaman terbaik yang mungkin sedang menantimu di persimpangan depan.

Baca juga:  Masa sih liburan selalu seru?

Penulis: Dewa

Leave a Reply

Please Login to comment

Apa yang ingin kamu sampaikan?

  Subscribe  
Notify of