Trend bersepeda melahirkan aneka lika-liku. Walau demikian, bisa dibilang ini adalah trend paling waras dibanding trend-trend lain yang pernah beredar sepanjang 2020. Hanya saja, seperti gaya hidup yang tengah meledak pada umumnya, penerapannya masih banyak yang asal-asalan. Dan, cenderung meleset dari tujuan utamanya: sehat.

Gejala trend sepeda sebenarnya sudah mulai terlihat dari bulan Maret. Akan tetapi, di Indonesia sendiri, meletus hebatnya trend ini terjadi setelah lebaran.

Perihal penyebab memang cukup sulit dilacak. Tapi diperkirakan, meningkatnya minat masyarakat terhadap bersepeda dipengaruhi oleh beragam faktor yang terjadi akibat pandemi, seperti kebosanan akut, kegiatan yang dianjurkan pemerintah dan portal-portal kesehatan, dan tentunya iklan sepeda yang masif.

kesalahan bersepeda, trend sepeda, covid, korona
Foto: Pixabay

Berkaitan dengan itu, melonjaknya gaya hidup bersepeda menimbulkan dampak yang amat berbeda di tiap orang. Bagi pedagang sepeda, lonjakan gaya hidup ini memberikan berkah karena meningkatnya kurva pendapatan. Namun bagi pengurus bike park atau orang yang sudah lama menjadi penggiat sepeda dan mengerti etika bersepeda, ceritanya bisa lain.

Ada dua jenis pengikut trend bersepeda: yang benar memahami, dan sekadar mengikuti. Pengikut jenis sekadar mengikuti inilah yang menimbulkan kekhawatiran.

Mereka nggak (mau) tahu hal-hal dasar dan penting dalam bersepeda. Bahkan, ada yang sudah tahu, tapi tetap tak acuh. Lebih buruknya lagi, ada yang nggak sudi ditegur dan malah balik marah-marah. Orang seperti ini biasanya memiliki ciri-ciri baru membeli sepeda, tapi mengarang cerita ia sudah bermain sepeda sejak beberapa tahun silam.

Kamu harus tetap tenang jika ternyata beberapa pernyataan di atas mengusik ego kamu. Itu menandakan kamu sedang membaca tulisan yang tepat. Dengan membaca tulisan ini hingga selesai lalu menerapkannya, kamu bukan hanya mendapat esensi dari bersepeda itu sendiri: sehat, tapi kamu juga terlihat lebih keren dan tentunya mendapat penghormatan dari banyak orang karena kamu telah bersepedah dengan bijak.

Agar ke depannya kegiatan bersepeda kamu makin oke, penting untuk kamu ketahui apa saja kesalahan yang lumayan fatal dilakukan oleh orang-orang pengikut trend ini:

Menggunakan masker yang kurang tepat pas gowes

Kita pasti paham penggunaan masker ketika bersepeda bertujuan supaya udara kotor, dan tentunya kuman sialan yang lagi heboh, nggak kehirup dan masuk ke dalam tubuh. Tapi kalo dipikir sedikit aja lebih dalam, kesalahan ini tuh mudah banget diraba.

Disaat kita lagi nggak banyak gerak aja, pakai masker rasanya ganggu banget. Napas jadi lebih sulit. Apalagi kalo kita menggunakan masker pas olahraga?

Bersepeda termasuk olahraga yang cukup berat, terlebih jika kamu lakukan selama berjam-jam. Aktivitas ini akan membuatmu bernapas lebih cepat. Ketika kamu butuh udara lebih banyak tapi masker justru mengganggumu untuk bernapas, maka hal itu berpotensi menimbulkan masalah.

Bukan berarti pakai masker saat olahraga atau bersepeda itu nggak perlu. Tapi lebih kepada kamu harus selektif memilih jenis masker yang digunakan.

Pilihlah masker yang nggak mengganggu pola pernapasan kamu dan memang didesain khusus untuk berolahraga. Mungkin akan lebih mahal, tapi lebih baik dibanding menggunakan masker yang justru membahayakan kesehatan.

Bersepeda di jalan raya

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, disaat bersepeda, kita akan bernapas lebih cepat. Udara yang kita hirup akan lebih banyak dibanding ketika kita nggak aktif bergerak.

Harusnya dari penjelasan itu kita sudah paham, bersepeda di jalan raya berkilo-kilometer jauhnya adalah keputusan yang ngawur. Soalnya, jalan raya merupakan tempat kongkownya beragam jenis polusi udara, sebut saja asap rokok, debu, dan asap kendaraan.

Solusinya sederhana banget, pilih jalur lintas yang sepi dan nggak banyak kendaraan. Perkampungan, misalnya. Tapi kalo masih tetap ingin di jalan raya, ada sedikit saran: gowesnya di tengah-tengah jalan, biar bisa abadi.

Nggak pakai pelindung, karena gaya nomor wahid

Tetap terlihat necis dan trendy disaat bersepeda adalah hak. Tapi, bukan berarti boleh mengesampingkan keselamatan dengan nggak menggunakan pelindung.

Meski bersepeda emang nggak melulu melibatkan kecepatan tinggi, nggak ada jaminan kecelakaan nggak akan terjadi. Kecelakaan bisa dateng dari mana saja, dan disebabkan oleh apa saja. Nggak ada yang tahu!

Apa pun jenis sepeda kamu, mulai sekarang biasakan pakai pelindung, seenggaknya helm. Tinggalkan dulu topi dengan visor atau lidah topi pendek yang tak terlalu menambah daya tarik itu.

Helm sudah paling minim. Kalo bisa ditambah kneepad atau elbowpad, tentu akan lebih baik.

Nyali nggak sejalan dengan teknik

Sekitar sebulan setelah hari raya lebaran, tepat disaat minat bersepeda sedang tinggi-tingginya, terjadilah sebuah peristiwa yang sebenarnya memang sudah diperkirakan. Peristiwa ini terjadi di salah satu trek sepeda gunung yang berlokasi di pinggiran Jakarta.

Awalnya, ada sekelompok pesepeda yang mendatangi trek. Kelompok ini terdiri dari 1 pesepeda lama, dan 2 pesepeda yang benar-benar baru saja membeli sepeda.

Sesaimpainya di trek, ketiga pesepeda ini langsung mencoba jalur yang memiliki panjang total sekitar 7-8 kilometer tersebut. Di sepanjang jalur, ada banyak wahana atau obstacle yang dapat menambah keseruan pengunjung yang bersepeda. Namun, beberapa obstacle di antaranya diperuntukkan hanya untuk yang mahir, dan itu dapat dikenali dengan papan penunjuk yang sudah dipasang di tiap obstacle oleh pengelola trek sepeda.

Salah satu obstacle berkategori expert itu berupa drop, atau lompatan yang menyambung ke jalur menurun cukup terjal. Tinggi drop tersebut mungkin hanya sekitar setengah meter, tetapi karena tempat landingnya turunan cukup terjal dan diapit pepohonan, dibutuhkan penguasaan beberapa teknik untuk bisa melewatinya.

Sesuai dugaan, para pesepeda tadi mencoba obstacle tersebut. Pihak pengelola sudah memberikan himbauan untuk dua pesepeda yang baru saja membeli sepedanya dan kali pertama mencoba gowes di jalur tanah, agar menunda percobaan itu. Tapi apa daya, keyakinan mereka sudah lebih tinggi dari nirwana.

Kelompok pesepeda tersebut pun akhirnya mengeksekusi obstacle. Pesepeda senior melewatinya dengan lancar. Salah satu pesepeda baru pun bisa melewatinya, meski hampir frontflip. Sayangnya di pesepeda terakhir, dewi keburuntungan sudah malas membantu.

Saat lompat dari drop, pesepeda tersebut mendarat dengan posisi terlalu condong ke depan (nombak). Hal itu kemudian membuat kendali sepeda jadi berantakan. Lalu ketika mencapai ujung turunan, dengan kecepatan tinggi, terjadilah kecelakaan akibat sepeda sudah sepenuhnya lepas kendali.

Kerasnya bunyi benturan tubuh dan sepedah dengan tanah serentak membuat semua orang yang ada di lokasi hening. Terlihat sekilas, beberapa luka yang cukup dalam sudah menempel di tubuh pesepeda. Dengan kondisi yang sangat syok, pesepeda tersebut pun segera dilarikan ke rumah sakit.

Inti dari cerita di atas adalah, kita harus tahu batasan dan kemampuan kita. Hindari menganggap remeh sesuatu yang terlihat mudah, padahal belum pernah kita coba.

Mencoba hal-hal baru dalam bersepeda tentu boleh saja, tapi perlu bertahap. Nggak ada ceritanya baru beli sepeda, walau pun harganya berpuluh juta, kamu bisa langsung menang ajang sepeda internasional macam Red Bull Joyride.

Ikutin juga aturan-aturan yang berlaku ketika kamu bersepeda di jalur sepeda khusus. Aturan-aturan tersebut pastinya dibuat pihak pengelola dengan dipertimbangkan yang matang, melibatkan pengalaman dan pengetahuan teknis yang mereka miliki.

Nah, itulah 4 keselahan bersepeda yang cukup fatal namun sering dilakukan. Sebenarnya masih ada beberapa kesalahan lain, seperti nggak tahu waktu dalam bersepeda, dan bersepeda terlalu lama. Mungkin dengan mengetahui kesalahan-kesalahan di atas, kamu bisa lebih peka sehingga dapat mengetahui hal lain apa saja yang perlu dihindari saat bersepeda.

Bersepeda pada dasarnya adalah aktivitas yang menyenangkan pun menyehatkan. Terlebih karena traveling sedang mustahil dilakukan akibat pandemi korona sialan, bersepeda jadi jalan keluar yang sederhana namun amat bermanfaat. Akan tetapi, jika kamu melakukannya secara sembarangan dan terlalu acuh dengan aturan yang berlaku, efek yang didapat justru bisa jadi terbalik.

Bersepedahlah dengan baik dan bertanggungjawab. Sebab, semua manfaat dan risikonya ada di tanganmu. So, enjoy the ride, guys!

Kalo ada informasi yang ingin kamu tambahkan, tulis di kolom komentar, ya. Biar teman-teman lain juga bisa baca dan tahu.

Penulis: Dewa

Baca juga:

Leave a Reply

Please Login to comment

Apa yang ingin kamu sampaikan?

  Subscribe  
Notify of