Musical genius, mungkin itu julukan yang paling tepat untuk diberikan kepada Gordi, penyanyi sekaligus penulis lagu asal Australia. Pemilik nama asli Sophie Payten ini memang memiliki ciri khas musik yang berbeda dengan yang lain. Kombinasi unsur folk dan elektronik dikemas dengan sangat apik sehingga membuat setiap pendengar larut dalam musik yang dibawakannya.

Photo by Roberto Ricciuti/WireImage (NME.com)

Gordi, salah satu musisi yang berhasil membuat saya terkagum-kagum sejak single pertamanya yang berjudul Nothing’s As It Seems dirilis tahun 2015. Aransemen yang unik dan sederhana, dengan lirik yang menarik dan penuh makna, menjadi alasan saya jatuh hati hingga saat ini. Melalui alunan musik dan vokal yang penuh karakter, Gordi seakan-akan tahu bagaimana membawa setiap pendengar untuk terseret dalam kisah yang ia ceritakan di setiap lagunya.

Musisi dengan latar belakang pendidikan kedokteran ini mengaku bahwa perjuangannya di industri musik tidaklah mudah. Lima tahun meniti karir sebagai musisi bukanlah waktu yang singkat hingga akhirnya ia berhasil merilis album pertamanya yang bertajuk Reservoir tahun 2017. Sebuah karya yang tidak hanya memanjakan telinga, namun juga memainkan perasaan para pendengarnya.

Sepanjang karirnya, Gordi juga telah merilis beberapa EP, di antaranya Clever Disguise (2016), Can We Work It Out (2018), dan Beneath The Reservoir (2019). Saat ini, Gordi tengah mempersiapkan album terbarunya Our Two Skins yang rencananya akan dirilis pada akhir Juni 2020. Dari beberapa single yang telah dirilis, seperti Aeroplane Bathroom, Unready, dan Volcanic, bisa diperkirakan Gordi akan kembali mengguncang telinga setiap pendengarnya.

Sebuah kesempatan yang luar biasa ketika Gordi bersedia menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang tim Gloob! berikan. Dalam sesi interview Gloob! kali ini, Gordi banyak bercerita tentang awal karirnya dalam dunia musik hingga bagaimana ia bertahan menjalani karir sebagai seorang musisi di tengah pandemi yang saat ini sedang berlangsung.

Apakah bisa sedikit diceritakan bagaimana awal karir Anda dalam dunia musik dan mengapa Anda memutuskan untuk menjadi seorang musisi?

Sejak usia remaja, saya sudah mulai menulis lagu dan mulai bernyanyi di beberapa tempat di Sydney. Uang dari hasil bernyanyi tersebut, saya gunakan untuk merekam Nothing’s As It Seems di sebuah studio kecil di daerah Melbourne. Lagu tersebut kemudian saya upload di sebuah website stasiun radio yang bernama Triple J Unearthed.

Saya tidak menyangka Nothing’s As It Seems berhasil terpilih dan mulai diputar oleh radio tersebut ke seluruh penjuru Australia. Sejak saat itu, saya mulai tampil di beberapa pertunjukan musik dan menulis lebih banyak lagu. Tahun 2015, saya merilis lagu Can We Work It Out. Lagu tersebut ternyata berhasil menarik perhatian sebuah perusahaan rekaman dan awal tahun 2016, saya akhirnya menandatangani kontrak rekaman dengan Jagjaguwar dan Liberation.

Kombinasi unsur folk dan elektronik adalah sesuatu yang unik untuk didengarkan. Apakah yang membuat Anda mengambil folktronik sebagai genre musik Anda?

Sejak kecil, saya tumbuh dengan ditemani musik folk, mulai dari James Taylor, Eva Cassidy, dan Carole King. Saat berusia 12 tahun, saya diberi sebuah gitar akustik sebagai kado ulang tahun dan memasuki masa remaja, saya menjadi sering mendengarkan musik dari para musisi, seperti Bon Iver dan Asgeir, yang mengombinasikan unsur folk tradisional dengan berbagai suara dari instrumen musik elektronik. Kombinasi kedua unsur tersebut membuat saya sangat tertarik dan akhirnya saya mencoba untuk membuat musik folktronik dengan ciri khas saya sendiri.

Tidak hanya alunan musik, namun lirik-lirik dalam lagu yang Anda buat cukup dalam dan penuh makna, salah satunya adalah Heaven I Know. Sejauh ini, lagu apa yang paling berkesan yang pernah Anda tulis dan mengapa?

Hmm.. sangat sulit, tapi Heaven I Know memang salah satunya. Lagu ini bisa saya katakan spesial karena Heaven I Know merupakan lagu pertama yang saya produksi sendiri dan memang sangat emosional. Mungkin Anda juga mengalami apa yang saya rasakan ketika harus hidup terpisah dengan orang yang selama ini dekat dengan Anda.

Apakah sulit untuk memperkenalkan musik Anda ke seluruh dunia dan kendala apa yang dihadapi selama Anda berkarir dalam industri musik?

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana saya memperkenalkan musik saya tanpa teknologi streaming yang banyak beredar saat ini. Oleh karena itu, saya sangat bersyukur dengan keberadaan platform musik digital sehingga memungkinkan orang di seluruh dunia untuk mendengarkan musik yang saya buat.

Pendapatan yang diperoleh dari hasil streaming memang sangat kecil, jadi kami mengandalkan sumber lain, misalnya tur, merchandise, dan penggunaan lagu di film atau serial untuk mendapatkan uang. Namun, terkadang segala sesuatu tidak dapat diukur dengan uang.

Hal apa yang ingin Anda capai tahun ini dan apa harapan Anda sebagai seorang musisi?

Untuk saat ini, harapan saya adalah agar pandemi yang sedang berlangsung cepat selesai. Memang tidak mudah bagi seorang musisi untuk bertahan dalam situasi yang tidak menentu ini. Hal yang dapat saya lakukan hanyalah menjalin komunikasi dengan para pendengar melalui musik yang saya hasilkan.

Kolaborasi Anda dengan Troye Sivan dan Willaris K sangatlah menghibur. Jika Anda diberi kesempatan untuk berkolaborasi dengan musisi lain, siapakah musisi tersebut dan mengapa?

Berkolaborasi dengan St. Vincent mungkin akan sangat menarik. Ia adalah seorang musisi hebat dan saya sangat kagum dengan musik yang ia bawakan.

Apakah Anda punya rekomendasi musik untuk kami? Bisa disebutkan setidaknya 3 lagu yang paling sering Anda dengar akhir-akhir ini?

Overcoats – Fire and Fury

Liza Anne – Desire

Little Quirks – Cover My Eyes

Pertanyaan terakhir, apakah ada sesuatu yang mau Anda sampaikan kepada para penggemar Anda di Indonesia?

Terima kasih telah mendengarkan musik saya dan saya harap suatu saat nanti saya bisa menggelar pertunjukan di Indonesia.

Nah, itu sedikit interview Gloob! dengan Gordi. Buat kamu para penggemar Gordi, jangan lupa album keduanya yang berjudul Our Two Skins akan rilis akhir Juni 2020 nanti. So stay tune ya! Untuk sekarang, dengerin dulu yuk lagu-lagu dari album pertamanya, Reservoir.

Penulis: Elsa

Leave a Reply

Please Login to comment

Apa yang ingin kamu sampaikan?

  Subscribe  
Notify of