Saat itu senja semakin menjadi. Madun, mahasiswa setengah pengangguran, tengah duduk di bangku kayu khas Betawi, di teras depan rumahnya yang luas. Parasnya bercahaya, dengan balutan baju koko dan sarung lebaran tahun kemarin. Teh tawar hangat tak luput menemaninya yang akan menikmati sore diakhir pekan, sebelum esok kembali menggali ilmu di kampus swasta daerah Jakarta Selatan. Tags:Cerpen agama

Madun membuka buku yang sedari tadi bersandar di gelas teh. Buku itu berjudul Mandika, kumpulan cerpen penuh sajak romantis. Baru dibeli minggu kemarin dari hasil menabungnya. Kini, Mandika menjadi buku yang paling disukainya, mengingat Ia sudah tidak punya buku lagi untuk dibaca, atau uang lebih untuk membeli buku baru. Tak jarang Madun membaca ulang cerita Mandika. Ia menikmati tiap kalimatnya, tiap romansa dan imaji yang ditawarkan buku tersebut.

Sesekali Ia juga memeriksa sakunya. Di sana ada ponsel pintar yang menyimpan ribuan rahasia dan jutaan kegembiraan.

Jarinya yang tengah asik bertamasya di dunia Twitter berhenti disuatu berita. Berita itu tidak menggunakan bahasa kampung dengan gambar yang tidak nyambung. Berita itu dikemas sesuai dengan etikanya, namun pembahasannya terlalu dekat dengan Madun untuk tidak dibaca.

Tak ada satu pun kata yang terlewat oleh Madun. Ia begitu bersemangat. Ia ingin membacanya terus. Terus lebih banyak, terus lebih dalam.

“Assalamualaikum, Pak Haji,” suara lantang pria berumur 20 tahun-an mengarah ke Madun dari depan rumahnya. Ternyata Ia adalah Lintong, teman satu kampus Madun, satu pengajian, satu misi. Lintong juga mengenakan baju koko dengan bawahan sarung merah dengan motif terkini. Tags:Cerpen agama

“Waalaikumsalam. Masuk, Tong!” jawab Madun dengan wajah sumringah. Lintong duduk di seberang Madun, di bangku berjenis sama seperti Madun. Khas betawi.

“Ngapain sih lu. Maen hape mulu. Cewek kaga gablek!” Celetuk Lintong menyindir Madun yang dari awal Ia lihat tengah menggenggam dan menghadap ke layar ponsel pintarnya. “Biasa, berita,” Madun menjawab singkat dengan mata masih menghadap ke layar ponsel tanpa menatap Lintong.

“Udah apa, udah! Lu kira gua roti, dikacangin!” Ucap Lintong kembali menyindir. Kali ini Madun menanggapi, meletakan ponselnya dekat gelas teh sambil tertawa di ujung bibir.

“Minum apaan?” tawar Madun yang sudah tidak menggenggam ponsel. “Nasi padang aja. Ayam goreng paha, gorengan 4, sama sambelnya jangan lupa, banyakin!” ucap Lintong sambil tersenyum lebar. Tags:Cerpen agama

“Halah, kaga. Teh aja, ye.” Madun kembali menawarkan dengan logat Betawi setengah kental, namun kali ini lebih mirip memerintah. “iye, iye. Manis, kayak gua dan tujuh keturunan gua nanti,” gumam Lintong yang masih tersenyum lebar.

Madun masuk ke dalam rumahnya, meninggalkan Lintong sejenak di depan bersama suasana sore yang tenang. Ia merebus air, menaruhnya di gelas kecil yang telah ditambahkan 2 sendok gula, 1 kantung teh, dan setimbun kebingungan.

“Nih, minum.” Tutur Madun sembari menyodorkan teh manis hangat yang baru saja dibuatnya ke Lintong. Lintong mengambil gelas berisi teh tersebut, mendekatkan ke mulutnya, meniupinya agar cepat dingin sambil berkata, “Iya lah diminum, masa diguyur. Lu kira gua bocah tongkrongan Pak Naming!” jawab Lintong sigap. Bocah tongkrongan yang dimkasud adalah sekumpulan anak remaja yang rajin nongkrong di pos samping rumah Pak Naming, ketua RT daerah rumah Madun. 2 hari lalu sekumpulan remaja itu kena guyur oleh Pak Naming karena berkerumun hingga malam, bising, dan tentunya mengganggu Pak Naming yang hendak ‘mendata’ Bu Naming.

Madun dan Lintong tertawa terbahak bersamaan. Sebentar. Lalu hening.

“Eh, Tong, gua mau nanya,” potong Madun di tengah keheningan. Ia ragu akan pertanyaan yang akan dilontarkan. Dalam benaknya, Madun tengah memikirkan cara yang tepat untuk mengajukan pertanyaan tersebut.

“Apaan dah?” ucap Lintong penasaran. Dahinya mengerit, matanya tertuju ke Madun yang tengah melihat ke arah bawah meja seperti memikirkan sesuatu. Sesuatu yang terasa begitu tertutup untuk seorang Madun yang begitu terbuka bagi Lintong. Tags:Cerpen agama

“Mmm, maaf nih ya. Si Arip kan tangan kanannya, maaf, udah nggak ada. Itu disebutnya cacat atau difabel, Tong?” Madun melontarkan pertanyaannya. Suaranya pelan, intonasinya seperti orang takut. Tiap kata yang dilontarkan memiliki jarak.

“Difabel dong. Yang lebih sopan. Cacat itu kata kasar.” Jawab Lintong cepat. “Lah kok?” tanggap Madun yang seakan bingung padahal tidak.

“Intinya kedua kata itu punya arti yang sama, tapi difabel lebih direkomendasiin karena terdenger lebih sopan, jadi orang yang mengalami kondisi itu nggak tersinggung,” lanjut Lintong dengan nada naik turun, khas dengan karakter orang yang tengah memberitahu suatu hal ke orang lain. “Masa sih? Tapi nggak harus kan?” tanya Madun. Kali ini, Ia sok penasaran.

“Nggak harus sih, tapi dianjurkan. Sangat dianjurkan.” Jawab Lintong dengan nada yang stabil namun mulai tinggi. “Kok gitu?” tutur Madun yang lagi-lagi sok penasaran.

“Maaf nih ya. Kayak kata bangsat dan kurang ajar. Walau pun keduanya kata umpatan, kurang ajar masih enak didenger. Kalo bangsat tuh kesannya udah kasar banget, bengis, parah lah.” Jelas Lintong. “Lagian, dalam Islam, kan ada tuh di hadits riwayat Al-Bukhari:6474,”

مَنْ يَضْمَنَّ لِي مَابَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

“Barang siapa bisa memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) sesuatu yang ada di antara dua janggutnya (mulut, tutur) dan dua kakinya, kuberikan kepadanya jaminan masuk surga.”

“Lagian juga, penyebutan itu udah diatur dalam UU no 19 tahun 2011.” Tutur Lintong menutup penjelasan. Dalam UU tersebut memang tertulis hak-hak penyandang disabilitas, termasuk salah satunya menyangkut soal penyebutan yang dianjurkan.

“Berarti emang nggak boleh kan?” tanya Madun kembali, dengan dahinya yang makin mengerit.

“Duh, bukan nggak boleh Madun Malkotak! Nggak dianjurin. Nggak sopan. Kaya lu manggil emak lu pake nama doang dah. Gitu nggak sopannya.” Jawab Lintong yang mulai males, tertipu pura-pura Madun yang hanya mengangguk-angguk menanggapi penjelasan Lintong.

“Terus…”

“apalagi!”

Sambil menyeruput sisa tehnya, Madun kembali bertanya, “gimana kalo penyebutan kafir dan nonmuslim?”

“hah?” tanya Lintong dengan gelagat kaget ala sinetron. Badannya maju mendekat Madun, matanya menatap lebih tajam dari Wayne Gacy yang akan memangsa bocah laki-laki.

“Iya, di Twitter tadi gw ngeliat banyak orang yang komen, nyebut ‘kafir’ ke orang lain yang agamanya nggak sama kayak kita.” Lanjut Madun. “Seandainya pun maknanya sama, apa kita harus-kudu-wajib nyebut orang yang beda agama sama kita tuh ‘kafir’, disaat mereka merasa kurang nyaman dipanggil dengan kata itu?”

Lintong terdiam. Cukup lama. Lalu Ia merapihkan sarungnya, berdiri, berjalan ke luar teras seraya berkata, “Waalaikumsalam…”

Tags:Cerpen agama

Leave a Reply

Please Login to comment

Apa yang ingin kamu sampaikan?

  Subscribe  
Notify of