Sebagai tujuan wisata, memang sudah banyak yang tahu dan mengakui bahwa Bali adalah salah satu primadona wisata Indonesia. Tapi siapa sangka, di balik pesonanya, Bali memiliki masa-masa kelam. Darah dan tubuh tak bernyawa tergeletak di banyak tempat pada masa itu.

Di zaman penjajahan Belanda, banyak dari daerah Hindia Belanda atau Hindia Timur (nama sebelum Indonesia) yang masih berupa kerajaan, termasuk di antaranya Bali. Kerajaan yang berdiri dan memerintah Bali pada saat itu adalah Kerajaan Klungkungan.

Kerjaan Klungkung terbentuk di tahun 1710, dengan raja pertama bernama Dewa Agung Jambe. Namun, selang beberapa waktu, Kerajaan ini terbagi menjadi 8 kerajaan-kerajaan kecil. Kerajaan itu antara lain Kerajaan Bedung, Kerajaan Mengwi, Kerajaan Bangli, Kerajaan Buleleng, Kerajaan Gianyar, Kerajaan Karangasem, Kerajaan Klungkung, dan Kerajaan Tabanan. Masing-masing kerajaan memiliki rajanya sendiri.

Melihat banyaknya keuntungan yang bisa diperoleh dari masyarakat, laut dan tanah Bali yang subur, tentu pemerintah kolonial Belanda yang sudah berada dan menjajah Hindia Timur sejak tahun 1500-an melirik Bali sebagai mangsa selanjutnya.

perang bali disebut juga, perang bali melawan belanda, perang bali dipimpin oleh, perang bali terjadi pada tahun

Kesepakatan Belanda-Bali

Pada sekitar tahun 1841-1843, pemerintah Hindia Belanda mengajukan kesepakatan kepada raja-raja Bali, termasuk raja Buleleng, I Gusti Ngurah Made.

Kesepakatan yang diinisiasi oleh pihak Belanda ini antara lain menyinggung tentang pengakuan kerajaan Bali berada dalam kuasa kolonial Belanda, peletakkan bendera Belanda, dan yang paling penting penghapusan tradisi tawan karang.

Tawan Karang adalah hak istimewa yang memungkinkan raja menyita kapal beserta muatannya jika mereka terdampar dalam area kerajaan. Ini merupakan tradisi turun temurun yang dipercaya sudah ada dan diterapkan sejak tahun 896 masehi.

Pemerintah Hindia Belanda tidak pernah menyukai tradisi tawan karang dan merasa sangat terganggu akan kehadirannya.  Mereka berdalih tradisi tersebut tidak sesuai dengan hukum internasional. Padahal alasan yang sebenarnya, tradisi tawan karang mengganggu kepentingan dagang Belanda.

Melalui perjanjian tersebut, terlihat jelas bahwa Belanda bertujuan memperluas daya jajahnya. Hal itu pun dirasai juga oleh pihak kerajaan. Maka tak heran kesepakatan tersebut tidak diindahkan oleh pihak kerajaan.

Awal Mula Ketegangan

Di tahun 1844, kapal dagang milik Belanda terdampar di Pantai Prancak dan Sangsit. Masyarakat yang melihatnya, menjalankan tawan karang tanpa ragu, seperti tidak tahu atau tidak mau tahu bahwasannya Belanda pernah mengajukan penghapusan tradisi ini.

Semua isi kapal disita. Mulai dari perkakas kapal hingga barang dagangan yang dimuatnya. Para awak kapal pun tak luput menjadi tawanan.

Mengetahui hal tersebut, pihak Hindia Belanda mengirim Asisten Residen Banyuwangi bernama Ravia de Lignij ke Bali untuk bernegoisasi. De Lignij bertugas untuk membuat Raja Buleleng melepas awak kapal yang ditawan, mengganti segala kerugian, dan menghapus tradisi tawan karang.

Segala muslihat berkedok perilaku baik dan amat manis diluncurkan terhadap raja Buleleng, agar negoisasi tersebut lancar.

Seperti menunggu kucing bertanduk, hasilnya nihil.  Upaya de Lignij nyatanya tak membuahkan hasil, bahkan ditolak mentah-mentah oleh raja Buleleng dan patihnya, I Gusti Ketut Jelantik.

De Lignij kemudian langsung melapor ke Gubernur Jendral di Batavia (Jakarta). Mendengar kabar dari de Lignij, amarah Gubernur Jendral membelalak. Sergap Ia memutuskan untuk ‘menegur’ Bali dengan cara yang lebih keras.

perang bali disebut juga, perang bali melawan belanda, perang bali dipimpin oleh, perang bali terjadi pada tahun
Ilustrasi I Gusti Ketut jelantik: Bulelengkab.go.id

Terjadinya Perang Bali

Dengan ditolaknya pengajuan de Lignij, Patih Jelantik turut sadar bahwa keputusan kerajaan akan mengundang masalah baru dengan pihak Hindia Belanda. Maka, ia pun mengambil tindakan. Ia menyiapkan pasukan, melatihnya sekeras mungkin, mempersenjatai semampunya, dan memperketat pengawasan.

Perkiraan patih tak meleset batang sejari. Pada tanggal 20 Juni 1846, pihak Hindia Belanda menyiapkan armada besar di Keresidenan Besuki, yaitu sebuah wilayah administratif yang mencakup Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Jember.

Armada itu terdiri tak kurang dari 40 kapal yang diisi oleh sekitar 1200 serdadu. Sebagian besar non-Eropa. Beberapa hari setelah terkumpul, armada besar itu pun diberangkatkan menuju kerajaan Buleleng. Selat Bali diarungi begitu saja di tengah kebingungan para serdadu terhadap apa yang akan menanti mereka.

Sesampainya di Buleleng, tanpa berlama-lama, pihak Hindia Belanda memberi ultimatum pada raja Buleleng untuk segera memenuhi permintaan yang sebelumnya telah diajukan. Raja hanya diberikan waktu 3 hari untuk menuruti apa yang dipinta. Namun, hingga waktu ultimatum berakhir, yaitu 27 Juni 1846, raja Buleleng tak juga menanggapi celoteh pihak Hindia Belanda.

Serdadu Belanda mengambil sikap siaga. Senapan yang kokoh digenggaman sudah terisi penuh dengan peluru. Perang pun pecah tanpa aba-aba.

Para serdadu turun dari kapalnya. Berlompatan tak beraturan. Upaya itu coba dicegah oleh prajurit kerajaan Buleleng yang sudah siap di tepi pantai. Sayangnya, pergerakan Belanda gesit, dibantu senapan yang jauh lebih canggih dibanding prajurit Buleleng. Mereka dapat memaksa mundur prajurit Buleleng.

Pasukan Belanda mulai memasukki kawasan-kawasan pedesaan. Peluru mahakarya Eropa menembus tubuh siapa pun yang berani melawan.

Di setiap langkah pasukan Belanda, perlawanan prajurit Buleleng tiada henti. Puluhan bahkan ratusan nyawa hilang tiap kali gemuruh peluru memantul dari dinding rumah warga dan pohon sekitar.

Semakin memasukki Bali, serangan Belanda semakin menjadi-jadi. Saat berhasil mencapai area Singaraja, Ibukota Buleleng, meriam dilancarkan ke istana kerajaan. Bertubi-tubi peluru meriam menghantam tembok istana sampai berantakkan bentuknya.

Berhari-hari perang berlangsung. Korban dari pihak kerajaan Buleleng sudah tak terhitung jumlahnya. Di tanah, peluru dan darah sama banyaknya. Belanda yang terus menyerang dengan meriam dan senapan yang seakan tak habis-habis pelurunya, akhirnya berhasil menjatuhkan istana Buleleng ke tangannya.

Raja Buleleng, patihnya, dan sejumlah laskar Buleleng yang masih tersisa berpindah dan bertahan di Benteng Jagaraga. Dari situ, mereka mengirim pesan ke kerajaan-kerajaan lain bahwasannya kerajaan Buleleng telah diserang dan dikuasai Belanda.

Belanda tak selesai di Buleleng. Mereka melanjutkan ekspedisinya dan memasukki Bali lebih dalam lagi. Saat pasukan Belanda memasukki area Jagaraga, patih Jelantik dan laskar Buleleng yang ada di sana sudah jauh lebih siap.

Ribuan prajurit dari kerajaan-kerajaan lain juga sudah datang ke Benteng Jagaraga untuk membantu kerajaan Buleleng mengusir Belanda. Diperkirakan jumlah prajurit Bali kala itu berkisar 15.000 orang.

Mereka menggunakan taktik geriliya. Memanfaatkan ketidaktahuan pasukan Belanda terhadap medan perang yang masih berupa hutan, sungai, dan perbukitan. Sejumlah parit dan ranjau buatan sendiri dipasang di beberapa titik untuk menghambat pergerakan lawan.

Dengan persiapan dan strategi yang lebih matang, ditambah jumlah prajurit yang banyak seperti itu, Bali berhasil memutar balik keadaan. Prajurit Bali dengan latihan perang dan senjata ala kadarnya mampu membuat banyak serdadu Belanda gugur. Belanda pun mundur.

Kemenangan prajurit Buleleng yang dibantu segenap kerajaan lain disambut gembira oleh seluruh masyarakat Bali. Mereka kembali dapat menjalani hidup seperti sedia kala, tanpa adanya gangguan berarti dari pihak kolonial Belanda.

Namun sayangnya, kemerdekaan yang diterima masyarakat Bali terhadap Belanda hanyalah sebutir gula di permukaan racun. Bukan akhir dari bencana, melainkan awalannya.

Belanda tidak menerima kekalahannya. Justru kekalahan itu memicu Belanda untuk merencanakan serangan-serangan yang lebih besar. Lebih banyak pasukan. Lebih kuat hasrat untuk memiliki.

Maka, peristiwa tersebut menjadi gerbang menuju perang-perang hebat Bali di kemudian hari. Merenggut ratusan bahkan ribuan nyawa, tapi tercatat sebagai salah satu perang paling heroik dalam sejarah Indonesia.

Penulis: Dewa

Baca juga:

Leave a Reply

Please Login to comment

Apa yang ingin kamu sampaikan?

  Subscribe  
Notify of