Pengalaman pertama saya menyaksikan pagelaran wayang kulit. Tentu sangat berkesan. Terlebih karena hal-hal ajaib yang tiba-tiba muncul di kepala.

Di Sabtu malam 27 April 2019 yang saya kira biasa-biasa saja itu, saya hendak menghampiri kerabat di sebuah kedai kopi yang terletak di Jagakarsa.

pagelaran wayang kulit, jagakarsa, jakarta selatan

Dari Beji, Depok, saya menyusuri Jl. Haji Asmawi, melewati Rumah Sakit Graha Ibu, lalu perempatan UI, hingga masuk ke kawasan Srengseng Sawah. Perjalanan lancar tanpa macet atau gangguan sirine dari mobil sok gagah. Tak jauh sebelum gerbang masuk SMP Desa Putra, saya mendengar suara wanita melantunkan lagu berbahasa Jawa, khas dengan cenkok-cengkoknya.

Sambil mengendarai motor matik andalan, saya melihat dari sela-sela pagar SMP Desa Putra, sebuah kain putih dengan bingkai kayu besar membentang sepanjang kira-kira 20 meter di lapangan sekolahan tersebut.

Ratusan wayang bersandar di sisi kiri dan kanan kain putih tadi. Lampu sorot berwarna kekuningan menyinari bagian tengahnya yang sengaja dikosongkan tanpa ada satu pun wayang. Seorang wanita yang suaranya sudah terdengar dari kejauhan tengah menyinden tepat di depan kain putih raksasa itu.

Saya berhenti sejenak di depan gerbang Desa Putra. Melihat dari spanduk yang terpasang di tembok gerbang, dua orang dalang akan tampil malam ini.

Pagelaran Wayang Kulit ini diprakarsai oleh Paroki Jagakarsa dalam rangka ulang tahunnya ke-25. Untuk acara yang dibuat oleh rumah peribadatan, ini beda dan sangat niat. Tata lampu, pengeras suara, hingga fasilitas penonton dikemas sangat apik.

Saya tentu mampir. Ini kali pertama saya menyaksikan secara langsung pagelaran wayang kulit, setelah sekian lama saya hanya menyaksikannya bersama ayah melalui VCD yang kini telah punah.

Acara yang menceritakan legenda-legenda Jawa ini berlangsung hingga pagi, mendekati subuh. Saya di sana sampai selesai. Dari menyaksikan penampilan sang dalang dan momen-momen berkeliling untuk mengambil gambar, saya menyadari beberapa hal yang membuat saya bertanya-tanya.

Antusiasme Warga

Ini mungkin terdengar biasa bagi banyak orang. Tapi bagi saya pribadi, ini mengganggu.

Saya terkesima dengan jumlah penonton yang mungkin mencapai 100 orang atau lebih. Seni tradisional yang sangat jarang diselenggarakan di kota-kota besar ini ternyata masih mendapat perhatian masyarakat. Namun sayangnya, pagelaran wayang kulit ini lebih banyak disaksikan oleh orang dewasa dengan umur di atas 30 tahun. Saya tidak tahu pasti di mana anak muda perkotaan berada.

Entah apa yang salah. Jalan Desa Putra hampir setiap detiknya dilewati muda-mudi dimabuk cinta. Tiga kampus ternama yang dengan ribuan mahasiswa, hanya berjarak beberapa ratus meter dari tempat diselenggarakannya wayang itu.

Mungkin saya kurang berkeliling, atau saya kurang menunggu lebih lama sampai tendanya dirapihkan.

Dupa

Ada momen di mana saya berdiri di salah satu sisi panggung wayang untuk mengambil gambar. Di ujung gedebog (batang) pohon pisang yang digunakan untuk menancapkan wayang yang ditampilkan, saya melihat beberapa dupa terpasang.

Menurut kepercayaan, dupa tersebut merupakan sesaji. Saya kurang tahu untuk siapa.

Lagipula, setahu saya seharusnya ada beberapa menu lain dalam sesaji ini, seperti kopi, ayam, dan hasil bumi. Tapi selama saya berkeliling, saya tidak melihat itu.

Di sela-sela saya memperhatikan dupa, terbesit pertanyaan unik: apa sesaji ini akan dipermasalahkan ke depannya?

pagelaran wayang kulit, jagakarsa, jakarta selatan

Layar lebar

Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, dalam acara ini terbentang kain panjang sekitar 20 meter, tempat di mana sang dalang menghidupkan para wayang. Saya cukup yakin kain ini lebih lebar dari layar bioskop. Dan saya cukup yakin, itu bisa jadi salah satu alasan yang sangat, sangat, sangat sederhana mengapa tiket nonton wayang seharusnya lebih mahal dibanding tiket nonton bioskop.

Sayangnya, pasar tidak berbicara demikian. Figur-figur publik juga kurang sadar (jika tidak ingin disebut apatis) dengan hal ini. Mereka sepertinya lebih suka berkicau soal asmara yang begitu-begitu saja, atau menunjukan keseharian yang ampuh membuat karyawan dengan gaji di bawah cukup berkhayal tentang seandainya.

Pesan sang dalang

Sang dalang sepertinya tahu persis di mana pagelaran wayang kulit ini dilangsungkan, siapa penontonnya, dan isu apa yang sedang membara-membaranya. Dalam penutupnya, sang dalang berpesan yang kurang lebih berbunyi:

“Seni lah yang menyatukan kita. Hanya ada senyum dan tawa.”

Setelah suara sang dalang meredup, tepuk tangan penonton menggema. Saya merasakan keberanian dan intensitas dalam pesan sang dalang. Beliau layak disandingkan dengan Nadia Murad atau Joseph Rotblat.

*Tulisan ini belum selesai dan akan diperbarui dalam beberapa hari ke depan

Baca juga: Peperangan dan kura-kura di balik indahnya Telaga Remis

Foto & Teks: Dewa

Leave a Reply

Please Login to comment

Apa yang ingin kamu sampaikan?

  Subscribe  
Notify of