Sejak awal diterapkannya physical distancing, karantina wilayah, PSBB, atau apa pun sebutannya itu, World Health Organization (WHO) dan pemerintah Indonesia menganjurkan masyarakat musti wawas diri terhadap kesehatan mentalnya.

Sebab, pengubahan kebiasaan dengan pembatasan jarak fisik ini (dibaca: nggak nongkrong langsung, wakuncar, dugem… dugem?), sangat rentan menimbulkan stres. Ndilalah kalo keterusan, stres ini bisa berujung jadi depresi.

Pada awalnya, pembatasan jarak fisik ini memang disambut senang oleh sebagian orang. Para pekerja yang bekerja dari rumah, bisa lebih nyantai dengan jam masuk, nggak perlu ngeluarin ongkos berangkat kantor.

Begitu pun dengan pelajar yang belajar dari rumah. Beberapa dari mereka bahkan mengatur siasat, agar bisa terlihat seperti sedang menyimak video conference pembelajaran, padahal di balik layar, mereka masih asik mencium-cium wangi bantal dan guling yang sudah berkerak iler.

Masuk 2-3 minggu masa pembatasan jarak, jengah dan kegabutan mulai melanda, pelan tapi terasa keberadaannya. Mulailah mencari-cari cara menghibur diri. Series Netflix dengan rating tertinggi ditonton tanpa pertimbangan, informasi tentang film-film terbaik yang belum sempat ditonton mulai digali, hobi yang nyaris binasa eksistensinya digeluti lagi, hingga membuat nongkrong virtual melalui Zoom atau Google Hangout.

Sayangnya, lambat laun, cara-cara itu sudah nggak seefektif awalnya. Butuh pembaruan. Hal ini pun mengakibatkan timbulnya kegabutan dan rasa bosen yang lebih mendalam. Sebagian orang bahkan meluangkan waktunya secara khusus hanya untuk menjawab pertanyaan ini: Ngapain lagi?

Demi menghindarkan diri dari stres, segala cara ditempuh. Kiat-kiat pelipur lara yang tersedia di Google dibacai. Kegiatan yang baru pertama kali dilakukan pun tak luput dari percobaan.

Menyadari fenomena tersebut, saya penasaran, sudah sejauh apa orang-orang berupaya menghindari stres. Cara termutakhir apa yang mereka temukan. Maka, untuk mengetahuinya, saya bertanya ke kerabat-kerabat yang terkoneksi dengan saya di Instagram. Jawabannya ajaib. Cenderung menghibur walau mengundang rasa iba.

Berikut ini adalah hal-hal aneh/unik yang orang lakukan demi mencegah stres di masa pandemi:

Temu teman lama

Shintalarasn: temu kangen sama temen-temen tk, sd, smp, sma via google meets/zoom meeting. Aneh gak sih? Wkwkwk. Menurut gue aneh/unik. Karena disaat sebelum gak ada covid ini kita jarang komunikasi, sekedar like-like foto IG sama seen story mereka aja.

Benar juga. Ngobrol di Zoom atau Google Hangout memang menjadi kegiatan yang biasa kalo lawan bicara kita dia-dia lagi, alias teman yang masih rutin ketemu. Tapi, akan menjadi unik, mungkin canggung, seandainya orang yang kita ajak ngobrol adalah teman lama, yang jarang banget atau bahkan sudah nggak pernah ketemu lagi.

Nggak kebayang apa yang bakal jadi topik pembicaraan. Apalagi kalo ada ex-pacar atau ex-gebetan.

Olahraga

Elsaaaps: headstand. Gatau dah kenapa, sama entah bisa dibilang aneh atau keliatan madesu. Tapi katanya bisa ngelancarin sirkulasi darah ke otak, jadi bisa tetep waras selama wfh. Yaa.. jada rada peyang sama rada bego sedikit lah.

Bagaimana pun situasinya, olahraga perlu menjadi rutinitas guna menjaga kesehatan. Tapi… headstand? Sejauh itu manusia mencari alternatif? Apa lari di tempat sambil ngaca di cermin lemari kamar kurang melelahkan?

Belajar

Albigama: ikut kelas2 online yang gratis

Belajar nggak hanya soal matematika, fisika, atau ilmu apa pun yang pernah tercantum di mata pelajaran zaman SMA yang tercatat di bagian depan buku tulis kita. Belajar maknanya luas. Bisa belajar masak, belajar origami, atau belajar tentang posisi mana yang lebih disukai pasangan. Posisi main bola, maksudnya.

Memantau tetangga

Rizkykeken: nontonin anak sd maen karambol setiap hari depan rumah uwe

Nggak semua orang bisa akrab dengan tetangganya, terutama mereka yang tinggal di komplek dan apartement. Sementara bagi mereka yang punya rumah di perkampungan, tetangga merupakan aset penting.

Tetangga menjadi sumber informasi teraktual, walau kebenarannya perihal belakangan dan banyak mengandung dosa. Tetangga juga menjadi bank non perusahaan dengan akses termudah, yang bisa memberikan pinjaman uang tanpa surat menyurat. Kita hanya perlu memulai pembicaraan dengan ucapan “jadi gini…” sambil mengusap-usap dengkul dan memasang wajah iba.

Beribadah

Walau sebagian orang menganggap beribadah merupakan sesuatu yang unik, tapi inilah berkah dari pandemi. Mereka akhirnya kembali ke jalur yang disarankan, dan mampu melepaskan pandangan dari jerat pegawai-pegawai TikTok yang memiliki bentuk tubuh sangat bergelombang.

Ngewe

Kata ini sungguh singkat, padat, hanya saja kehilangan jelasnya. Saya masih mencari-cari arti kata ini. Tolong siapa pun yang tahu, tulis di kolom komentar. Bingung saya. Saking bingungnya, ketika mendengar kata ini, ada hasrat untuk langsung pergi ke kawasan Kota Tua. Tentu untuk menyewa… buku terjemahan.

Selain kegiatan-kegiatan di atas, sebenarnya masih banyak kerabat saya yang mengutarakan pendapat mengenai cara mereka beradaptasi dengan situasi yang ada. Hanya saja, agak sulit untuk memasukkan semuanya dalam tulisan ini.

Tapi, sebagai perwakilan, saya masukkan beberapa di antaranya:

Aripawpaw: kalo gue si ngilangin bosen, paling bikin sesuatu makanan gt ka hehe

Indahdkartika: masak masakan yang belum pernah dimasak

Dininurash: download tantan

Popy_hervi: nonton drama koera, 10 tahun lamanya gak nonton

Nfagista: frontliner cant relate

Andiehariyadi: kerja kerja kerja walau wfh

Svnbather_: gambar sama nanem bang wkwkwk

Dhimasuu: maen biotope/aquascape buat nyambung idup wakakak

Travelusmuliawan: alhamdulillah nggak pernah bosen karena bisa kumpul bareng anak-istri… wkwkwk.

Berbagi pengalaman, entah itu buruk, baik, atau lucu, dan melalui media apa pun, menjadi sangat penting di masa-masa pandemi ini. Sebab, dengan berbagi atau curhat, sadar nggak sadar kita lagi ngelepas stres yang mungkin sudah menggunung di kepala dan siap meledak kapan aja.

Jadi, jangan ragu untuk mengajak teman nongkrong secara virtual. Manfaatkan kemajuan teknologi yang ada. Kesehatan kita, ada di tangan kita sendiri.

Penulis: Dewa

Baca juga:

Leave a Reply

Please Login to comment

Apa yang ingin kamu sampaikan?

  Subscribe  
Notify of